Telkom Ingatkan: Pakai AI Publik Boleh, Tapi Jangan Sampai Data Bocor
📅 Senin, 02 Mar 2026, 23:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ REUTERS/ Dado Ruvic-Illustration
JAKARTA – Pemakaian AI publik sekarang sudah jadi hal biasa—buat cari ide, bantu nulis, sampai olah data. Praktis memang, tapi tetap ada sisi yang perlu diwaspadai, terutama soal kebocoran data.
Tanpa sadar, orang bisa saja memasukkan informasi sensitif seperti data pelanggan, strategi bisnis, atau dokumen internal ke platform yang sifatnya terbuka.
Masalahnya, sekali data itu keluar dari sistem internal, kontrolnya jadi lebih terbatas. Risiko penyalahgunaan, pelanggaran privasi, atau sekadar tersebarnya informasi penting ke pihak yang tak berwenang bisa saja terjadi. Apalagi kalau penggunaannya tidak dibarengi panduan yang jelas di level organisasi.
Karena itu, penting untuk membiasakan “rem” sebelum klik kirim. Pastikan data yang dimasukkan memang aman untuk dibagikan, gunakan versi AI yang punya jaminan keamanan untuk kebutuhan profesional, dan terapkan kebijakan internal yang tegas. AI memang memudahkan, tapi tetap perlu dipakai dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Perusahaan telekomunikasi PT Telkom Indonesia mengingatkan risiko kebocoran data dari penggunaan situs atau aplikasi kecerdasan buatan (AI) yang dapat diakses secara publik seperti ChatGPT, Gemini, dan sejenisnya untuk membantu pekerjaan dan kegiatan bisnis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Executive General Manager Digital Product Telkom Indonesia Komang Budi Aryasa mengatakan, penting bagi perusahaan untuk memiliki batasan bagi para pegawainya dalam pemanfaatan AI.
“Jadi batasan itu adalah bahwa dokumen-dokumen internal, kebutuhan-kebutuhan internal (perusahaan) Itu tidak boleh di-query di aplikasi (seperti) ChatGPT yang open (terbuka digunakan bebas oleh publik). Karena apa pun itu adalah data yang tersimpan berpotensi (pada) kebocoran,” kata Komang dalam acara temu media di Jakarta, Senin.
Lebih lanjut, ia tidak mengelak bahwa penggunaan AI dalam pekerjaan memang sangat mudah untuk diakses dan membantu pekerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, Komang menilai dokumen-dokumen atau data perusahaan yang diunggah ke aplikasi AI publik dapat tersimpan di server platform untuk kemudian menambah wawasan bagi perkembangan teknologi AI itu sendiri.
“Pada saat kita meng-upload dokumen itu maka dokumen itu tersimpan di server-nya mereka. Pada saat ada orang lain yang mem-promt hal yang sama, itu bisa di-deliver dokumen kita ke orang lain, (termasuk) bisa jadi kompetitor (bisnis) kita, bisa jadi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Nah terjadilah kebocoran data,” ujar Komang.
Oleh karena itu, Komang mengatakan, perusahaan perlu memiliki aturan yang tegas dalam batasan penggunaan AI bagi pekerjaan.
“Nah hal-hal itu harus diantisipasi oleh perusahaan. Memang tidak mudah. Sekarang perusahaan itu harus top down, jadi harus mengeluarkan aturan, enforcement-nya itu harus ada,” kata dia.
Selain itu, Komang juga menyarankan jaringan intranet untuk perusahaan. Jika karyawan membutuhkan bantuan AI, maka mereka akan diarahkan menggunakan platform AI internal yang telah dibangun perusahaan.
“Kalau ingin bantuan, gunakan GPT internal yang sudah kita bangun. Hasilnya juga sama,” ujar Komang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!