Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

APBD Harus Optimal agar Memberi Dampak Nyata ke Masyarakat

📅 Rabu, 25 Feb 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

“Artinya, target belanja yang membesar lebih terkonsentrasi menjadi agenda pemerintah pusat. Padahal sumber pendapatan pemerintah sejatinya dari akumulasi pendapatan daerah, terutama yang terkait pajak dan bagi hasil pajak,” kata Hafidz.

Secara kasat mata, itu nampak sebagai resentralisasi fiskal, dimana justru postur transfer ke daerah menurun, tetapi pemerintah memiliki alasan lain dimana program-program dari pemerintah pusat sejatinya juga dinikmati daerah, seperti makan bergizi gratis (MBG) yang menyerap konsentrasi anggaran terbesar hingga 223 triliun.

Ada beberapa catatan penting yang perlu mendapat perhatian serius, diantaranya; minimnya transfer daerah yang tidak diimbangi dengan perubahan skema penerimaan pajak dan sumber daya alam cenderung menyedot sumber daya ke pusat, sehingga daerah tidak punya alternatif penerimaan, pajak daerah relatif kecil dan sumber PAD belum memadai.

Kedua, belum ada upaya sistematis untuk menempatkan penerimaan pajak sesuai dengan lokus aktivitas. Pasalnya masih banyak industri migas, pertambangan, perkebunan dan manufaktur yang membayar pajak penghasilan pekerjanya masih di pusat atau sesuai domisili registrasi pajaknya, bukan sesuai lokasi aktivitas terkini.

Hanya pajak badan usahanya yang dibayarkan di daerah, itupun dikurangi aktivitas konsolidasi holding yang dibayarkan kebanyakan di Jakarta. Alhasil bagi hasil pajak Jakarta selalu mendapat lebih banyak dari yang lain.

Ketiga, Eksternalitas dari penerimaan negara berbasis ekstraktif tidak dipertimbangkan sebagai biaya, banyak penerimaan bersifat PNBP yang menjadi domain pemerintah pusat. Padahal dampak langsungnya dirasakan daerah, ini perlu penataan ulang misalnya dana pinjam pakai kawasan hutan, pemakaian ruang laut, dana reboisasi, bea masuk kawasan konservasi, seharusnya menjadi bagian dana eksternalitas yang tetap mengendap di daerah atau pemakaiannya dikunci untuk kepentingan daerah masing-masing.

“Prinsipnya pusat dan daerah perlu menata kembali sistem penerimaan berdasarkan keberlanjutan fiskal dan pembiayaan jangka panjang, bukan sekedar mengedepankan pragmatisme belanja tahunan yang ujungnya anggaran daerah yang sudah sangat minim juga habis untuk belanja pegawai dan belanja rutin saja,”papar Hafidz.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai, tidak hanya APBD yang dimaksimalkan untuk kegiatan yang produktif dan lebih berdampak nyata pada masyarakat tetapi juga APBN.

Memang data menunjukkan hanya beberapa propinsi saja yang tidak punya ketergantungan fiskal kepada pusat misalnya DKI. Sebagian besar daerah sangat tergantung pada dana perimbangan pusat daerah baik itu Dana alokasi umum (DAU), Dana alokasi khusus (DAK) dan Dana bagi hasil.

Sebagian besar belanja daerah juga dialokasikan untuk belanja rutin ketimbang untuk belanja modal (pembangunan). Oleh karena itu tidak heran jika daerah masih sangat tergantung pemerintah pusat.

“Sebaiknya ke depan porsi belanja modal untuk kegiatan produktif harus lebih besar daripada untuk belanja rutin seperti untuk bayar gaji pegawai dan kegiatan rutin Pemda lainnya,”tutup Esther.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Nasional
Kemensos Sosialisasikan Sek...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.