Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jangan Dimatikan, Lahan Pertanian dan Perkebunan yang Produktif Harus Dibela

📅 Jumat, 20 Feb 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Sementara itu, Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar) Bali, I Nengah Muliarta mengatakan ambisi kemandirian pangan yang sering digembar-gemborkan pemerintah saat ini tampak seperti ilusi yang menutupi kerapuhan sistemik, di mana kebijakan lebih condong pada solusi instan melalui impor daripada perbaikan fundamental di tingkat hulu.

Komitmen pembelian komoditas pertanian dalam jumlah masif dari AS membuktikan bahwa ketahanan pangan kita masih sangat bergantung pada fluktuasi pasar global dan perdagangan internasional. Kebergantungan ini diperparah oleh kebijakan "beras-sentris" yang memarginalkan keragaman pangan lokal, sehingga ketika pasokan terganggu, pemerintah cenderung mengambil jalan pintas impor yang justru memukul kesejahteraan petani lokal saat musim panen tiba.

Strategi mengejar target produksi tinggi demi statistik semata telah memaksa lahan pertanian bekerja melampaui kapasitas ekologisnya, yang terlihat dari penggunaan pupuk kimia hingga 9,55 juta ton per tahun. Penggunaan input anorganik secara berlebihan ini telah menyebabkan tanah kehilangan penyangga organiknya hingga di bawah dua persen di banyak wilayah, yang secara jangka panjang justru mengancam keberlanjutan panen itu sendiri.

“Alih-alih membangun kedaulatan yang berakar pada kemandirian komunitas tani, pemerintah lebih memilih mempertahankan subsidi pupuk kimia yang menguras anggaran negara demi menjaga angka produksi jangka pendek,”tandas Muliarta.

Kegagalan demi kegagalan dalam proyek skala besar seperti pembukaan lahan marginal di luar Jawa menunjukkan bahwa ambisi politik sering kali dipaksakan di atas hukum alam. Proyek-proyek tersebut sering kali mengabaikan studi hidrologis dan karakteristik tanah, sehingga hanya membuang sumber daya keuangan negara tanpa kontribusi nyata bagi produksi pangan nasional.

Strategi substitusi lahan ini hanyalah solusi tambal sulam yang tidak akan pernah mencapai efisiensi produksi yang setara dengan lahan subur di Jawa yang terus menyusut akibat konversi lahan infrastruktur.

Kemandirian pangan yang sejati hanya dapat dicapai melalui pergeseran paradigma menuju pertanian regeneratif yang menghormati kesehatan ekosistem dan kedaulatan petani atas benih mereka sendiri. Anggaran triliunan rupiah seharusnya dialihkan untuk mendanai transisi sistem pertanian yang lebih mandiri, bukan terus-menerus membiayai kerusakan lingkungan melalui input sintetis.

“Tanpa keberanian untuk melakukan transformasi fundamental dan meninggalkan solusi jangka pendek, bangsa ini akan tetap terjebak dalam siklus krisis pangan yang berulang di atas tanah yang semakin gersang,”pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
AS Kirim Dua Jet Tempur F-1...
Advertisement
7 Event Jakarta Akhir Pekan 3-4 Oktober: Ada Indonesia Comic Con hingga JICAF 2026

7 Event Jakarta Akhir Pekan 3-4 Oktober: Ada Indonesia Comic Con hingga JICAF 2026

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.