Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Migrant Care: Pandemi jadi Penyebab Utama Meningkatkan Perdagangan Manusia

📅 Sabtu, 14 Feb 2026, 01:12 WIB | Oleh:
Migrant Care: Pandemi jadi Penyebab Utama Meningkatkan Perdagangan Manusia Doc: ANTARA/Shutterstock

JAKARTA - Senior Manager Migrant Care, Mulyadi, menyampaikan bahwa kasus perdagangan orang di Indonesia meningkat signifikan pada tahun 2019. Terutama pada era pandemi COVID-19, ketika banyak masyarakat kehilangan pekerjaan.

Menurutnya, situasi ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu dengan menawarkan pekerjaan yang tampak menarik dan menggiurkan. Kemudahan akses ke negara-negara seperti Kamboja atau wilayah lain di kawasan Mekong.

"Ditambah pengawasan yang rendah, turut mempermudah praktik perdagangan orang tersebut," kata dia, Kamis (13/2).

Ia kemudian menekankan pentingnya meninjau ulang prosedur dan birokrasi dalam sistem migrasi.

Ia menilai bahwa saat ini banyak calon pekerja migran menghadapi birokrasi yang mahal dan rumit, termasuk biaya tinggi. Baginya, celah inilah yang dimanfaatkan pihak tertentu untuk menawarkan kemudahan atau jalur cepat kepada calon pekerja migran.

"Kemudahan yang tampak menarik ini justru bisa membuka peluang terjadinya praktik ilegal atau eksploitasi," ujar dia.

Lebih lanjut, ia menambahkan, penyempurnaan sistem birokrasi dan prosedur penerimaan tenaga migran perlu dilakukan.

Hal tersebut untuk memastikan calon pekerja migran dapat bekerja di luar negeri secara aman, legal, dan terlindungi. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya pencegahan agar pekerja migran tidak menjadi korban praktik yang merugikan.

Sementara itu, Ketua Komnas HAM RI, Anis Hidayah, mengatakan bahwa fenomena perdagangan manusia di Indonesia seperti gunung es. Ia juga menyoroti data dokumentasi nasional yang diterima belum tersedia.

Berdasarkan laporan yang diterima Komnas HAM, selama 5–10 tahun terakhir terdapat beberapa tren yang semakin marak. Terutama pada kasus perdagangan orang (TPPO).

Menurutnya, aduan yang masuk menunjukkan bahwa terdapat modus-modus yang paling sering digunakan dalam praktik perdagangan orang. Data ini memang berasal dari pengaduan yang diterima Komnas HAM, sehingga bisa berbeda dengan data dari lembaga lain.

"Beberapa tren yang makin marak dialami para korban yang menjadi korban TPPO itu modus paling banyak. Ini berdasarkan aduan yang diterima Komnas HAM, mungkin bisa berbeda dengan aduan yang diterima lembaga lain," ucap dia. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Sekjen PBB Soroti Tantangan Lonjakan Populasi Lansia

30 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Sekjen PBB Soroti Tantangan...
Nasional
Menbud Optimistis Batik Ind...

Janice Tjen Tersingkir dari China Open

56 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Olahraga
Janice Tjen Tersingkir dari...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.