Fenomena Langka Jelang Ramadan: Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026, Cek Waktunya
📅 Selasa, 03 Feb 2026, 17:45 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Pexels
JAKARTA - Fenomena langit langka berupa gerhana matahari annular atau gerhana matahari cincin diprediksi terjadi pada 17 Februari 2026, tepat sehari sebelum awal Ramadan yang diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026. Peristiwa ini diperkirakan menjadi salah satu momen astronomi paling menarik di awal tahun.
Dalam fase annular, bulan menutupi sekitar 96 persen piringan matahari dan menciptakan efek visual berbentuk lingkaran cahaya terang di tepi matahari. Fenomena tersebut dikenal sebagai "cincin api" karena tampilan cahaya yang menyerupai api melingkar.
Berdasarkan perhitungan waktu astronomi, puncak gerhana matahari cincin ini akan terjadi pada pukul 07.12 EST atau setara pukul 19.12 WIB. Pada fase puncak ini, kontras cahaya akan terlihat paling jelas bagi pengamat yang berada di jalur pengamatan utama.
Namun, fase annular tidak dapat disaksikan dari semua wilayah di dunia. Jalur annularity hanya membentang sepanjang sekitar 4.282 kilometer dengan lebar sekitar 616 kilometer, sehingga area pengamatan sangat terbatas.
Tahun ini, jalur cincin api diperkirakan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika. Kondisi tersebut membuat peluang pengamatan langsung menjadi sangat terbatas dan hanya bisa dilakukan oleh peneliti atau ekspedisi khusus yang berada di kawasan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski begitu, sejumlah wilayah lain masih berkesempatan menyaksikan gerhana matahari dalam fase parsial. Wilayah yang berpotensi melihat gerhana sebagian meliputi sebagian Antartika, Afrika bagian selatan, serta kawasan selatan Amerika Selatan.
Bagi masyarakat di luar jalur pengamatan, fenomena ini tetap bisa diikuti melalui siaran langsung daring. Mengutip laman Space, beberapa lembaga astronomi internasional diperkirakan akan menayangkan proses gerhana secara real time.
Hingga saat ini, detail platform dan jadwal resmi siaran langsung masih menunggu pengumuman dari penyelenggara. Masyarakat diimbau memantau kanal resmi observatorium atau lembaga antariksa untuk mendapatkan akses tayangan yang valid.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara ilmiah, gerhana matahari terjadi ketika bulan berada di antara matahari dan bumi pada fase bulan baru. Pada kondisi ini, bayangan bulan jatuh ke permukaan bumi dan menutup sebagian atau seluruh piringan matahari.
Pada gerhana matahari total, bulan menutupi matahari secara penuh sehingga area tertentu mengalami gelap sesaat. Namun pada gerhana annular, jarak bulan yang lebih jauh dari bumi membuat ukuran tampak bulan lebih kecil dibandingkan matahari.
Akibat perbedaan ukuran tampak tersebut, cahaya matahari tidak tertutup sepenuhnya dan menyisakan lingkaran cahaya terang di bagian tepi. Efek inilah yang menciptakan tampilan khas cincin api yang menjadi daya tarik utama gerhana annular.
Fenomena ini kerap menjadi perhatian komunitas astronomi karena memberikan peluang pengamatan struktur atmosfer matahari dan dinamika cahaya di tepi piringan surya. Selain itu, momen ini juga sering dimanfaatkan sebagai sarana edukasi publik tentang pergerakan benda langit.
Menjelang Ramadan, peristiwa ini diperkirakan akan menarik perhatian masyarakat meski tidak bisa disaksikan langsung dari Indonesia. Pengamat di Tanah Air tetap diimbau tidak menatap matahari secara langsung tanpa alat pelindung khusus jika mengikuti siaran gerhana parsial dari wilayah lain.
Dengan kemajuan teknologi siaran daring, fenomena langit langka ini tetap dapat dinikmati secara aman dan edukatif. Gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 pun diprediksi menjadi salah satu peristiwa astronomi paling dinantikan di awal tahun depan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!