MBG Dianjurkan untuk Prioritaskan Masyarakat 3T
📅 Rabu, 28 Jan 2026, 05:16 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Praktik pemberian makan bergizi gratis (MBG) diusulkan agar diprioritaskan untuk masyarakat yang tinggal di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
"Prioritaskan wilayah 3T. Fokuskan tahap awal pada daerah rawan pangan dan kerentanan ekonomi tinggi," kata Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, di Jakarta, Selasa.
Selain itu, Badan Gizi Nasional (BGN) juga harus melakukan evaluasi tata kelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mencegah terjadinya kasus keracunan makanan. Jasra menilai perlunya BGN melibatkan kantin sekolah yang telah tersertifikasi.
"Cegah kontaminasi silang dengan mempertimbangkan model pemberdayaan kantin sekolah yang tersertifikasi," kata dia. KPAI juga menilai perlunya dilakukan survei yang melibatkan anak untuk melihat seberapa jauh anak menerima kehadiran Program MBG.
"Libatkan anak dalam perencanaan menu dan survei umpan balik untuk memberikan rasa aman," kata Jasra Putra. Kemudian kolaborasi lintas sektor juga dinilai penting untuk menjamin kualitas gizi dan higienitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Edukasi gizi yang komprehensif juga penting. Tanamkan pola hidup bersih dan sehat, bukan sekadar mengirim ribuan paket makanan," kata Jasra Putra. Selain itu, KPAI juga mengimbau agar disediakan kanal pengaduan MBG yang mudah diakses oleh masyarakat. "Sediakan kanal pengaduan yang mudah diakses masyarakat dan orang tua," kata Jasra Putra.
Per 19 Januari 2026, tercatat telah berdiri 21.102 SPPG dan menjangkau 58,3 juta penerima manfaat Program MBG dengan dana operasional harian mencapai Rp855 miliar. "Realisasi anggaran sampai hari ini sudah mendekati Rp18 triliun. Jadi Rp17,398 triliun itu per 16 Januari 2026. Per pagi ini sudah mendekati Rp18 triliun," kata Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Program MBG dimulai pada 6 Januari 2025 dengan diawali 190 SPPG di 26 provinsi di Indonesia.
Cianjur 180 Siswa Keracunan
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, masyarakat Cianjur prihatin dan sedih terus saja terjadi keracunan makan begizi gratis (MBG). Petugas gabungan Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mendata sekitar 180 siswa sejumlah sekolah diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG, menjalani perawatan di puskesmas setempat, Selasa.
Camat Cikalongkulon Iyus Yusuf dihubungi di Cianjur, Selasa, mengatakan sebagian besar siswa berasal dari sejumlah sekolah dasar di Cikalongkulon, mengeluh pusing, mual, dan muntah setelah mengonsumsi menu MBG dan sebagian besar mengeluhkan hal yang sama setelah pulang ke rumah.
"Ratusan ratusan pelajar tersebut mulai mengalami gejala keracunan, seperti pusing, mual, muntah dan diare pada siang dan petang setelah sampai di rumah sehingga pihak keluarga membawa mereka ke puskesmas," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!