Letusan Dahsyat Samalas: Bukti NTB Pernah Jadi Episentrum Sejarah Dunia
📅 Minggu, 25 Jan 2026, 10:53 WIB | Oleh: Yebdi TrismarSaat ini NTB memiliki lima museum daerah dan delapan museum desa yang terdaftar secara nasional. Angka ini menjadi pijakan awal bahwa pengembangan museum bukan wacana kosong, melainkan agenda yang sudah berjalan.
Konsep museum tematik yang sedang disiapkan Museum NTB menjadi contoh pendekatan baru. Museum tematik Samalas dan Tambora dirancang tidak hanya memamerkan artefak, tetapi juga menyajikan narasi tentang hubungan manusia, alam, dan bencana.
Dengan teknologi imersif dan ruang pamer digital, museum diarahkan menjadi ruang belajar lintas generasi, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan visual dan pengalaman interaktif.
Namun, tantangan terbesar bukan pada pembangunan fisik, melainkan pada narasi dan pengelolaan. Lima puluh museum baru akan kehilangan makna jika hanya menjadi etalase benda tanpa cerita.
Sebaiknya Anda baca juga:
Samalas memberi pelajaran penting bahwa sejarah harus dirangkai sebagai alur sebab akibat, dari letusan gunung, perubahan iklim, migrasi manusia, hingga transformasi sosial. Narasi semacam ini yang membuat museum relevan dan hidup.
Selain itu, museum juga harus berkelindan dengan masyarakat sekitar. Pengalaman Rinjani Color Run III pada Agustus 2025 menunjukkan bahwa ketika museum hadir di ruang publik, antusiasme warga meningkat.
Ribuan peserta tidak hanya berlari, tetapi juga belajar tentang gunung purba Samalas, melihat maket Rinjani, dan memahami bahwa Lombok memiliki sejarah yang berdampak global. Model ini membuktikan museum dapat keluar dari tembok gedung dan menjangkau publik lebih luas.
Kebijakan berkelanjutan
Rencana pembangunan 50 museum baru perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan yang realistis dan berkelanjutan.
Pertama, prioritas harus diberikan pada kawasan yang memiliki nilai sejarah kuat dan risiko kehilangan artefak tinggi, seperti Tanak Beaq. Museum geologi dan arkeologi di kawasan ini dapat menjadi laboratorium terbuka bagi pendidikan kebencanaan dan sejarah lingkungan.
Kedua, penguatan museum desa menjadi strategi penting. Museum desa memungkinkan masyarakat lokal menjadi subjek, bukan objek, dalam pengelolaan warisan budaya.
Dengan pendampingan yang tepat, museum desa dapat menggerakkan ekonomi lokal melalui wisata berbasis komunitas, sekaligus menanamkan kebanggaan terhadap sejarah sendiri.
Ketiga, integrasi museum dengan sistem pendidikan perlu diperkuat. Museum harus menjadi perpanjangan ruang kelas, tempat siswa belajar sejarah, geografi, dan kebencanaan secara kontekstual.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!