Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Letusan Dahsyat Samalas: Bukti NTB Pernah Jadi Episentrum Sejarah Dunia

📅 Minggu, 25 Jan 2026, 10:53 WIB | Oleh:
Letusan Dahsyat Samalas: Bukti NTB Pernah Jadi Episentrum Sejarah Dunia Doc: Antara Foto
Ket. Sejumlah pelajar mengamati maket Gunung Samalas-Rinjani di ruang pameran Museum NTB, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Letusan besar sering kali dicatat sebagai bencana. Namun bagi Nusa Tenggara Barat (NTB), letusan Gunung Samalas pada abad ke 13 justru menjadi penanda bahwa wilayah ini pernah berada di pusat pusaran sejarah dunia.

Abu dan sulfur yang terlempar dari Samalas pada 1257 masehi tidak hanya menimbun kampung di kaki gunung, tetapi juga melintasi benua, memengaruhi iklim global, memicu gagal panen, kelaparan, dan perubahan sosial di Eropa serta Asia.

Jejak itu kini perlahan kembali muncul dari lapisan lahar dingin, dari cerita tutur masyarakat, dari artefak yang tersimpan di rumah warga, dan dari kesadaran baru pemerintah daerah bahwa NTB menyimpan narasi peradaban dunia yang belum sepenuhnya dituturkan.

Gagasan pembangunan 50 museum baru yang dilontarkan Pemerintah Provinsi NTB tidak bisa dilepaskan dari konteks tersebut. Ia bukan sekadar rencana memperbanyak gedung, tetapi sebuah upaya menata ulang cara memandang sejarah, kebudayaan, dan identitas daerah.

Pertanyaannya, sejauh mana letusan Samalas dan warisan sejarahnya dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan museum, sekaligus menjadi instrumen pelayanan publik yang mendidik, memberdayakan, dan mencerahkan.


Cerita dunia

Gunung Samalas bukan hanya bagian dari lanskap Gunung Rinjani. Ia adalah simpul penting dalam sejarah iklim dunia. Penelitian internasional yang kemudian dirujuk berbagai media ilmiah menyebutkan letusan Samalas sebagai salah satu erupsi terbesar dalam dua milenium terakhir.

Dampaknya tercatat dalam anomali cuaca ekstrem di Eropa pada 1258 masehi, yang dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Di Lombok sendiri, letusan itu memusnahkan Kerajaan Pamatan di kawasan Tanak Beaq, Lombok Tengah, dan memaksa eksodus besar-besaran penduduk ke berbagai penjuru pulau.

Tercatat bahwa setiap aktivitas penggalian tanah di Tanak Beaq kerap memunculkan artefak peradaban lampau. Peralatan memasak, gerabah, hingga sisa-sisa hunian menjadi bukti konkret bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat kehidupan yang maju pada masanya.

Sayangnya, sebagian besar artefak itu masih tersimpan secara mandiri oleh warga, tanpa sistem pendataan dan perlindungan yang memadai.

Di titik inilah sejarah global bertemu dengan persoalan lokal. Jejak Samalas yang berdampak dunia justru terancam hilang di tingkat tapak. Tanpa kebijakan penyelamatan yang cepat dan terukur, artefak bisa berpindah tangan, rusak, atau lenyap tanpa jejak.

Padahal, nilai sejarahnya bukan hanya milik NTB, melainkan bagian dari memori kolektif peradaban manusia.

Museum

Usulan membangun 50 museum baru di NTB mencerminkan perubahan paradigma dalam melihat museum. Museum tidak lagi diposisikan semata sebagai ruang penyimpanan benda kuno, tetapi sebagai simpul edukasi, literasi, dan ekonomi budaya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Liburan di kebun binatang mini Taman Situ Cibinong Plaza Bogor

Liburan di kebun binatang mini Taman Situ Cibinong Plaza Bogor

13 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.