Sepekan Kebanjiran, Warga Binuang Serang Banten Mulai Keluhkan Gatal-Gatal
📅 Minggu, 18 Jan 2026, 23:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Desi Purnama Sari
SERANG – Sepekan setelah air banjir merendam rumah-rumah di Kampung Kuranji, Desa Jakung, Kecamatan Binuang, Serang, Banten, suasana normal yang diharapkan warga masih jauh dari kenyataan. Di balik genangan yang surut, muncul cerita lain: gatal-gatal yang tak kunjung reda, kulit yang mulai memerah, hingga demam yang mendera.
Warga bercerita dengan wajah lelah, namun mata mereka tetap menatap rumah yang sebagian besar masih basah dan berlumut. Anak-anak bermain di sela-sela genangan yang tersisa, sambil menggaruk kulit mereka yang terasa perih, sementara orang tua cemas memantau satu per satu tanda-tanda penyakit.
Banjir bukan sekadar soal air yang tinggi dan harta yang rusak. Di sini, ia meninggalkan bekas yang lebih halus tapi nyata: kesehatan yang terganggu, rasa was-was, dan ketidakpastian kapan kehidupan kembali normal. Cerita Kampung Kuranji menjadi pengingat bahwa dampak bencana tak hanya terlihat dari ketinggian air, tetapi juga dari jejak kesehatan yang ditinggalkannya pada masyarakat.
Salah seorang warga terdampak banjir, Hilmi di Serang, Minggu, mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan para pengungsi semakin menurun setiap harinya. Lingkungan yang lembap memperburuk keadaan, terutama bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah.
"Warga sudah mulai mengeluhkan gatal-gatal hingga demam karena harus terus-menerus terpapar lingkungan yang tidak sehat," ujar Hilmi saat ditemui di lokasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain masalah kesehatan fisik, Hilmi juga menyoroti fasilitas pengungsian yang dinilai sangat kurang memadai. Menurutnya, tempat berteduh sementara yang ada saat ini tidak memberikan perlindungan yang layak, terutama saat cuaca buruk kembali melanda.
"Kondisi tenda pengungsian juga memprihatinkan, kalau hujan bocor dan lantainya jadi becek, sehingga kami sulit beristirahat," tambahnya.
Banjir yang tak kunjung surut ini juga telah melumpuhkan aktivitas warga secara total selama satu minggu terakhir. Genangan air yang keruh, bercampur lumpur, dan sampah diduga menjadi penyebab utama buruknya sanitasi lingkungan, sehingga menjadi sarang kuman yang memicu masalah kesehatan bagi warga yang bertahan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan demikian warga meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang untuk mengambil tindakan yang lebih cepat dan konkret. Ia berharap ada upaya penyedotan air atau perbaikan drainase agar banjir segera surut, mengingat roda perekonomian dan aktivitas warga telah mati total selama satu minggu.
Keluhan senada disampaikan oleh Imas, seorang ibu rumah tangga yang juga menjadi korban banjir di wilayah tersebut. Imas mengaku sangat khawatir karena kondisi di pengungsian yang kurang layak dan tidak adanya sarana air bersih.
"Anak-anak kasihan, tidurnya tidak nyenyak kalau hujan tenda ini bocor. Kami bingung, mau membersihkan badan juga air bersihnya susah didapat," ungkap nya.
Warga Desa Jakung kini sangat menantikan uluran tangan pemerintah dan dinas terkait. Penanganan darurat, khususnya layanan kesehatan, pasokan air bersih, dan perbaikan tenda pengungsian, menjadi prioritas utama yang sangat dibutuhkan warga saat ini demi mencegah wabah penyakit yang lebih luas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!