KKP Rapikan Data Laut demi Pembangunan Tanggul Pantura yang Lebih Aman
📅 Sabtu, 17 Jan 2026, 09:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Aji Styawan
ABU DHABI – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melangkah menyiapkan perlindungan kawasan pesisir Pantai Utara Jawa. Salah satu upayanya dilakukan dengan merampungkan survei hidro-oseanografi di Teluk Jakarta dan perairan Semarang.
Survei ini menjadi bagian penting dalam menyusun perencanaan pembangunan tanggul laut agar lebih tepat sasaran dan sesuai kondisi alam setempat.
Lewat pemetaan arus laut, gelombang, pasang surut, hingga karakter dasar perairan, KKP ingin memastikan setiap rencana pembangunan benar-benar berpijak pada data lapangan.
Dengan begitu, tanggul laut yang dirancang nantinya tak hanya kokoh di atas kertas, tetapi juga mampu menghadapi dinamika laut yang terus berubah.
Langkah ini dinilai strategis karena kawasan Pantura selama ini rentan terhadap banjir rob, abrasi, dan penurunan muka tanah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Data hasil survei diharapkan bisa menjadi fondasi kuat bagi pemerintah dalam menyiapkan perlindungan jangka panjang bagi wilayah pesisir dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP Kartika Listriana menyampaikan survei yang dilaksanakan bersama Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) ini menjadi fondasi ilmiah bagi Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) dalam menyusun desain teknis perlindungan pesisir.
Dalam keterangan KKP yang diterima di Abu Dhabi, Kamis (15/1), Kartika menyampaikan bahwa penyelesaian survei ini merupakan tonggak penting dalam upaya pemerintah mengatasi kerentanan pesisir Pantura terhadap banjir rob, erosi, dan penurunan muka tanah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tak hanya itu, KKP juga akan memanfaatkan hasil survei tersebut untuk penataan serta pengembangan kawasan pesisir dan kota-kota pesisir di pantura.
“Tantangan pembangunan wilayah pesisir semakin kompleks akibat perubahan iklim, kenaikan muka air laut, dan land subsidence yang terjadi cepat di berbagai kota besar,” ujar Kartika.
Ia menegaskan bahwa Teluk Jakarta dan perairan Semarang merupakan dua kawasan dengan tingkat kerentanan tertinggi di Pantura.
Karena itu, intervensi berbasis data ilmiah disebut diperlukan untuk memastikan ketepatan desain infrastruktur dan meminimalkan risiko lingkungan maupun sosial.
Survei yang berlangsung pada 20 November–29 Desember 2025 ini mencakup pengumpulan data bathymetry (pemetaan kedalaman), geofisika, pemodelan hidrodinamika, pola arus dan gelombang, analisis sedimen dan transportasi sedimen, hingga kualitas air.
Seluruh proses dilakukan mengikuti standar nasional dan internasional untuk menghasilkan data yang lengkap dan akurat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!