Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Wisata Ngopi di Negeri Laskar Pelangi

📅 Sabtu, 10 Jan 2026, 10:56 WIB | Oleh: Tim Penulis

Beberapa warung kopi, bahkan menambahkan atraksi budaya, seperti memperlihatkan proses sangrai tradisional atau menghadirkan musik lokal pada malam hari.

Dengan cara ini, warung kopi tidak lagi sekadar tempat minum, tetapi ruang bagi wisatawan untuk menyerap budaya lokal.

Bagi warga Manggar, keberadaan warung kopi tidak sekadar dihitung dari jumlahnya. Banyak yang telah bertahan hingga tiga generasi, diwariskan dari orang tua kepada anak cucu. Masing-masing punya racikan khas, mulai dari pahit pekat hingga manis gula aren.

Beberapa warung masih mempertahankan cara sangrai tradisional menggunakan wajan besi di atas tungku kayu. Proses itu kerap menjadi tontonan menarik bagi wisatawan.

Selain untuk menikmati kopi, warung kopi juga berfungsi sebagai ruang publik tempat warga membicarakan banyak hal. Kaum muda menjadikannya lokasi berkumpul, nelayan berbincang soal hasil tangkapan, pedagang berdiskusi mengenai harga, sementara warga lainnya memperdebatkan isu lokal. Tidak jarang wisatawan pun larut dalam obrolan hangat itu.

Tak pernah tidur

Saat malam tiba, aktivitas di Manggar tak serta-merta berhenti. Lampu warung tetap menyala, kursi kembali terisi, dan aroma kopi bercampur angin malam menyambut siapa pun yang singgah.

"Kalau kursi masih kosong, berarti belum malam betul,” ujar Lia, pemilik salah satu warung kopi, sambil menuang kopi ke cangkir pelanggannya.

Bagi dia, warung kopi bukan hanya tempat usaha, tetapi juga rumah kedua bagi banyak orang. Orang bilang kopi Manggar itu pahit, tapi justru dari pahit itu kita bisa tertawa bersama. Itu yang membuat orang betah datang lagi.

Kini, dengan hadirnya Tugu 1001 Warung Kopi, identitas Manggar sebagai kota kopi semakin kuat. Kopi telah menjelma sebagai simbol kebersamaan, penggerak ekonomi lokal, sekaligus daya tarik wisata budaya.

Manggar bukan lagi sekadar kota kecil di timur Pulau Belitung, melainkan pusat kebudayaan kopi yang mempertemukan banyak orang. Dari setiap cangkir lahir cerita, dari setiap meja tumbuh solidaritas.

Dari riuh mesin tambang timah yang dulu mendominasi, secara perlahan kehidupan masyarakat beralih ke suasana sederhana warung kopi. Saat denyut tambang melemah, banyak warga memilih membuka warung kopi sebagai sumber penghidupan baru. Dari situlah tradisi ngopi tumbuh, mengakar, dan menjelma menjadi jantung kehidupan sosial Kota Manggar.

Ke depan, tantangan Manggar adalah menjaga keseimbangan antara perkembangan pariwisata dan pelestarian budaya kopi. Modernisasi bisa saja mengubah wajah warung kopi menjadi kafe bergaya urban, tetapi masyarakat setempat berusaha mempertahankan nuansa tradisionalnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
Luar Negeri
Bandara Riyadh Kembali Dise...
Olahraga
MotoGP Mandalika 2026 Cetak...
Ekonomi
Pasar Cermati Defisit APBN ...
Nasional
Bisnis Makin Lintas Batas, ...
Advertisement
Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

11 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.