Bisnis Makin Lintas Batas, Risiko Hukum Makin Kompleks
📅 Senin, 12 Okt 2026, 07:28 WIB | Oleh: Mohammad Zaki AlatasJAKARTA - Kompleksitas bisnis kini tidak lagi berhenti di batas negara. Perubahan geopolitik, pola perdagangan global, rantai pasok, transisi energi, perkembangan kecerdasan artifisial, hingga perubahan regulasi datang bersamaan dan saling memengaruhi. Bagi perusahaan, kondisi ini membuat peran in-house counsel bergeser. Bukan lagi sekadar memastikan kepatuhan, melainkan membantu bisnis bergerak di tengah ketidakpastian.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan Indonesian In-House Counsel Summit & Awards (IHCSA) 2026, yang digelar Hukumonline bersama Indonesian Corporate Counsel Association (ICCA) pada 8–9 Oktober 2026 di The Westin Resort Nusa Dua, Bali. Mengusung tema “Unlocking Growth in the Age of Complexity 2027”, forum ini mempertemukan in-house counsel, general counsel, profesional hukum, pimpinan perusahaan, kantor hukum, regulator, serta asosiasi corporate counsel dari Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.
Kehadiran para pemimpin dan komunitas corporate counsel dari berbagai negara menjadikan IHCSA 2026 bukan sekadar forum nasional. Kolaborasi Hukumonline dan ICCA dalam forum ini juga menjadi ruang pertukaran pengalaman, gagasan, dan praktik terbaik di antara para profesional hukum di kawasan Asia Pasifik.
Presiden Indonesian Corporate Counsel Association (ICCA) sekaligus Sekretaris Jenderal Asia Pacific Corporate Counsel Alliance (APCCA), Seradesy Sumardi, mengatakan kompleksitas yang dihadapi dunia usaha saat ini memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar bertambahnya jumlah regulasi.
“Kompleksitas berarti semakin banyak kepentingan yang harus kita hubungkan,” kata Seradesy.
Menurut dia, satu keputusan bisnis dapat bersinggungan sekaligus dengan hukum nasional maupun hukum negara lain, perlindungan data, teknologi, kekayaan intelektual, rantai pasok, standar Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG), ketenagakerjaan, persaingan usaha, hingga risiko reputasi. Ketika bisnis bergerak lintas batas, risiko hukum pun ikut bergerak melampaui batas negara.
Karena itu, in-house counsel dituntut memiliki perspektif yang lebih luas. “Kita tidak lagi cukup hanya memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” ujar Seradesy.
Ia menekankan, tim hukum perlu memahami alasan bisnis di balik sebuah keputusan, mencari cara agar keputusan tersebut dapat dijalankan secara aman, sekaligus memastikan prinsip tata kelola tetap terjaga.
Perubahan itu juga menggeser posisi fungsi legal di dalam perusahaan. Chief Executive Officer Hukumonline Arkka Dhiratara mengatakan para in-house counsel kini tidak cukup hanya menjadi penjaga gerbang kepatuhan. Mereka perlu menjadi mitra strategis yang membantu organisasi membaca risiko dan mengambil keputusan bisnis secara lebih terukur.
“Transformasi terbesar fungsi legal terjadi. Dari legal as a gatekeeper menjadi legal as a strategic partner,” kata Arkka.
Pandangan tersebut sejalan dengan meningkatnya tuntutan terhadap profesional hukum perusahaan untuk memahami bisnis secara lebih utuh. Di tengah ketidakpastian, fungsi legal justru dituntut untuk membantu perusahaan menemukan ruang gerak, bukan sekadar menunjukkan batas.
Perubahan lanskap tersebut turut tercermin dalam Indonesian In-House Counsel Awards (IHCA) 2026, yang menjadi bagian dari rangkaian IHCSA 2026. Penghargaan ini memberikan apresiasi atas inovasi, profesionalisme, dan dedikasi tim serta pimpinan hukum perusahaan yang berkontribusi terhadap kemajuan dan keberlanjutan bisnis organisasi.
Tahun ini, Hukumonline menyempurnakan metodologi IHCA dengan tiga prinsip utama, yaitu objectivity, integrity, dan excellence. Penilaian dilakukan menggunakan data primer dari survei terhadap entitas korporasi pelanggan Hukumonline dan mencakup tiga aspek utama, yakni Legal Team Innovation, Individual Leadership, dan Preventive Legal Initiatives.
Anggota Dewan Juri IHCA 2026, Erry Riyana Hardjapamekas, mengatakan pendekatan tersebut penting karena keberhasilan fungsi legal sering kali justru tidak terlihat. “Pekerjaan yang hasil terbaiknya justru adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi. Tidak terjadi sengketa, tidak terjadi pelanggaran, tidak terjadi kerugian,” ujar Erry.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!