Trump Desak Zelensky Mundur di Tengah Serangan Russia yang Tewaskan 21 Orang
Minggu, 11 Okt 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky saling melontarkan kritik pada Sabtu (9/10), setelah Washington mengambil langkah untuk melonggarkan sanksi terhadap ekspor solar Rusia. Sementara itu, serangan Russia yang berlanjut ke Ukraina menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk empat anak-anak.
Trump, yang partainya menghadapi prospek sulit dalam pemilihan paruh waktu pada November, antara lain akibat melonjaknya harga bahan bakar di AS, mengumumkan pada 9 Oktober bahwa dirinya telah berbicara melalui telepon dengan Presiden Russia Vladimir Putin. Keduanya sepakat mengizinkan Rusia menyalurkan solar dalam jumlah besar ke pasar global.
Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa menyatakan kekecewaan atas langkah tersebut. Zelensky mengatakan kepada wartawan pada 9 Oktober bahwa keputusan itu merupakan “keputusan yang lemah”.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan pada 10 Oktober bahwa pencabutan sanksi terhadap solar Russia justru akan membantu mendanai perang yang dilancarkan Kremlin terhadap Ukraina.
“Ini bukan saatnya untuk mengurangi tekanan terhadap Russia, dan Eropa tidak akan melakukannya,” tulis Kallas melalui media sosial.
Menanggapi kritik tersebut pada 10 Oktober, Trump mengatakan Zelensky telah mengabaikan perintahnya untuk tidak menyerang kilang minyak Russia.
Trump menilai serangan terhadap kilang tersebut berisiko memperburuk kelangkaan bahan bakar global yang dipicu perang AS-Israel melawan Iran.
“Dia benar-benar harus menghentikannya,” kata Trump merujuk pada serangan Ukraina. Ia kemudian menambahkan bahwa Ukraina seharusnya “mendapatkan presiden baru”.
“Saya menyarankan mereka mendapatkan pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan, karena dia sebenarnya bisa membuat banyak kesepakatan yang, entah mengapa, tidak pernah dilakukannya,” ujar Trump.
Serangan Russia Tewaskan Warga Sipil
Rusia meningkatkan serangan mematikan terhadap Ukraina dalam beberapa bulan terakhir, sehingga jumlah korban sipil melonjak. Sementara itu, upaya yang dipimpin AS untuk merundingkan penghentian konflik yang telah berlangsung lebih dari empat setengah tahun tersebut masih menemui jalan buntu.
Pada awal 10 Oktober, serangan bom luncur Rusia di Kota Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, menewaskan 20 orang, termasuk tiga anak-anak, menurut dinas penyelamatan negara Ukraina.
“Hari ini, Russia menyampaikan terima kasih atas pencabutan sanksi terhadap ekspor solar dengan menjatuhkan lima bom luncur ke bangunan tempat tinggal di Zaporizhzhia,” kata Zelensky melalui unggahan di platform X.
Koresponden AFP yang berada di lokasi melihat petugas penyelamat mengevakuasi sejumlah orang dari reruntuhan bangunan.
“Kami melihat orang-orang di bawah reruntuhan—seorang perempuan, suaminya, dan seorang anak,” kata salah seorang petugas penyelamat, Daniil Pishkin, kepada AFP.
Ia mengatakan melihat dua orang berhasil diselamatkan dari reruntuhan. Namun, “sayangnya, ada seorang anak perempuan yang meninggal dunia”.
Iryna, 69 tahun, seorang warga yang tinggal di salah satu bangunan yang terkena serangan, mengatakan dirinya hanya sempat berlindung di kamar mandi setelah menerima peringatan serangan udara.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!