Rentak Kapuas Festival 2026 Jadi Ruang Para Perupa Kritisi Isu Lingkungan di Kalimantan
📅 Sabtu, 10 Okt 2026, 15:25 WIB | Oleh: Tim PenulisPONTIANAK - Rentak Kapuas Festival 2026 di Kalimantan Barat dimanfaatkan para perupa sebagai ruang refleksi kritis untuk menyoroti berbagai isu lingkungan dan perubahan lanskap ekologi yang terjadi di daerah tersebut.
"Pameran seni kali ini secara khusus mengangkat tema Memoar Muara untuk mengenang masa lalu dan peradaban yang berkembang, terutama yang berkaitan dengan Sungai Kapuas," kata Kepala UPT Taman Budaya Kalbar, Gabriel Manuel, di Pontianak, Sabtu.
Gabriel menjelaskan bahwa pameran ini melibatkan 30 seniman lokal yang menyajikan 10 karya dua dimensi berupa lukisan serta 20 karya instalasi yang secara kreatif memanfaatkan barang-barang bekas tidak terpakai.
"Melalui olahan material daur ulang tersebut, para seniman menyuguhkan narasi kuat mengenai kondisi terkini Sungai Kapuas, degradasi hutan, ancaman kemarau panjang, hingga dampak buruk bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," katanya.
Pihak panitia mengklasifikasikan para peserta pameran menjadi lima seniman perempuan, lima seniman anak, 10 seniman muda, dan 10 seniman senior untuk memberikan ruang ekspresi yang inklusif.
Selain pameran seni rupa bermuatan kritik ekologi, festival hasil kolaborasi bersama Pekan Museum dalam rangka Hari Museum ini dimeriahkan dengan perlombaan vokal grup lagu rakyat lama, lomba berbalas pantun, dan sarasehan budaya.
Salah seorang perupa lokal, M Ozi Trianda, menampilkan karya instalasi bertajuk “Antu Utai Tumbuh” yang dia pamerkan secara unik di atas alat tenun tradisional.
"Karya ini mencoba menangkap jargon masyarakat Dayak Iban yang berbunyi 'hutan adalah ayah kami, tanah adalah ibu kami, dan sungai adalah darah kami' karena eksplorasi karyanya mengacu pada ekologi," katanya.
Ozi menambahkan, visualisasi bentuk bebatuan, air sungai, pohon tengkawang, dan miniatur patung roh alam merupakan wujud keresahan pribadinya mengenai perubahan lanskap lingkungan di bumi Kalimantan Barat yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Keresahan serupa juga disuarakan oleh perupa Naufal Saman melalui lukisan ikan arwana di atas jaring penangkap yang menyoroti tekanan ekosistem akibat eksploitasi habitat asli demi kepentingan pasar global.
“Arwana ini menyadarkan kita, yang kita agung-agungkan lihat kehidupannya di akuarium mewah, tetapi habitatnya kita pertanyakan, mereka terancam punah di sana,” tutur Naufal.
Melalui narasi kuat yang disampaikan dalam setiap karya, generasi muda diharapkan tidak hanya datang berkunjung untuk berswafoto, melainkan dapat belajar tentang sejarah sekaligus tergugah untuk menjaga kelestarian kebudayaan serta alam Kalimantan Barat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!