Wali Kota Ingatkan Potensi Lonjakan Walau Kasus DBD Kota Bandung 2023–2025 Menurun
📅 Kamis, 18 Des 2025, 19:05 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Humas Kota Bandung
BANDUNG -Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung menunjukkan tren penurunan yang konsisten sejak 2023 hingga 2025. Capaian tersebut menjadi hasil kerja bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan partisipasi aktif masyarakat.
Meski demikian, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengingatkan agar seluruh elemen warga tidak terlena dan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus pada tahun-tahun mendatang.
Hal itu disampaikan Wali Kota Farhan saat kegiatan Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Rancanumpang, Kecamatan Gedebage, pada Rabu, 17 Desember 2025. Siskamling dihadiri para ketua RW 1 hingga RW 8 beserta pengurus kewilayahan setempat.
Wali Kota Farhan menyebutkan, sepanjang tahun 2025, Kota Bandung berhasil mencatatkan nol kematian akibat DBD. Capaian tersebut, patut disyukuri sebagai buah dari kedisiplinan warga dalam menjaga lingkungan dan respon cepat fasilitas kesehatan.
“Alhamdulillah, sejak 2023 sampai 2025 tren DBD di Kota Bandung terus menurun. Bahkan tahun ini tidak ada korban jiwa. Tapi justru di saat kondisi membaik, kita tidak boleh lengah,” ujar Wali Kota Farhan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menjelaskan, berdasarkan pola epidemiologi, penurunan kasus DBD yang berlangsung selama tiga tahun berturut-turut kerap diikuti dengan potensi peningkatan pada tahun keempat hingga keenam.
Oleh karena itu, periode 2026 hingga 2028 dipandang sebagai fase krusial yang perlu diantisipasi sejak dini.
“Kalau kita lengah, potensi kenaikan itu bisa terjadi. Kalau sudah naik, risikonya bukan hanya soal jumlah kasus, tapi juga ancaman keselamatan warga,” ungkap dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wali Kota Farhan menekankan pentingnya peran pengurus RW sebagai garda terdepan dalam pengendalian DBD di lingkungan masing-masing.
Kehadiran seluruh ketua RW dalam kegiatan tersebut dinilainya sebagai modal penting untuk memperkuat koordinasi dan kesadaran kolektif.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan kewaspadaan terhadap DBD sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari, bukan sekadar respons saat terjadi kasus.
“Jangan menunggu ada warga yang sakit dulu. Pencegahan harus menjadi kebiasaan. Kalau semua warga disiplin, kita bisa menekan risiko sejak awal,” kata dia.
Pemerintah Kota Bandung juga menghadirkan tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kota Bandung untuk memberikan edukasi langsung kepada warga terkait deteksi dini dan pencegahan DBD. Melalui penjelasan medis, warga diingatkan bahwa gejala DBD umumnya diawali dengan demam tinggi yang dapat naik-turun meskipun sudah mengonsumsi obat penurun panas.
Masyarakat diimbau segera mendatangi puskesmas apabila mengalami gejala tersebut, tanpa menunggu munculnya tanda bahaya seperti bintik merah, muntah berulang, atau perdarahan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!