BI Catat Kenaikan Mini, Risiko Maksimal: Saatnya Devisa Tumbuh dari Ekspor, Bukan Utang
📅 Jumat, 05 Des 2025, 15:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja
JAKARTA – Menaikkan cadangan devisa tanpa bertumpu pada penarikan pinjaman luar negeri menjadi krusial untuk menjaga kualitas ketahanan eksternal Indonesia.
Cadangan devisa yang tumbuh dari sumber-sumber berkelanjutan—seperti ekspor bernilai tambah tinggi, pariwisata, investasi portofolio yang stabil, serta penerimaan pajak dan jasa—menciptakan ruang yang lebih sehat bagi stabilitas makroekonomi.
Kebergantungan pada pinjaman luar negeri memang dapat memberi dorongan jangka pendek, namun berisiko menambah beban utang dan membuat cadangan kurang mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi.
Dengan memperkuat struktur penerimaan devisa yang organik, Indonesia tidak hanya membangun buffer yang lebih kokoh terhadap guncangan global, tetapi juga meningkatkan kredibilitas fiskal dan kepercayaan investor.
Seperti diketahui, cadangan devisa Indonesia pada akhir November mencatat kenaikan tipis sekitar 2 juta dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya. Meski kecil, tambahan ini mencerminkan arus masuk yang tetap stabil dari penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2025 meningkat menjadi 150,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari posisi sebelumnya pada bulan lalu sebesar 149,9 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (5/12), kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.
Kenaikan cadangan devisa November 2025 terjadi di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons bank sentral Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.
Sebaiknya Anda baca juga:
BI memastikan posisi cadangan devisa pada akhir November 2025 setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Ramdan.
Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap kuat didukung oleh prospek ekspor yang tetap terjaga serta arus masuk penanaman modal asing yang diprakirakan terus berlanjut sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Ramdan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!