BRIN Soroti Tantangan Perubahan Iklim untuk Masa Depan Indonesia
📅 Rabu, 26 Nov 2025, 01:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: ANTARA/Sean Filo Muhamad
Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyoroti tantangan perubahan iklim yang membawa berbagai macam potensi dampak untuk masa depan Indonesia.
Dalam kegiatan Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset BRIN di Jakarta, Selasa (25/11), Arif mengungkapkan perubahan iklim membawa banyak dampak seperti halnya yang terjadi pada bidang gizi mikro.
"Jadi, kalau saya dan Pak Handoko (eks-Kepala BRIN) itu makan kangkung kira-kira 40 tahun lalu, dengan anak sekarang makan kangkung maka kandungan zat gizi mikronya berbeda. Mengapa berbeda? Karena faktor perubahan iklim. Jadi, perubahan iklim tidak saja berpengaruh pada unsur produktivitas tapi ternyata juga berpengaruh pada zat gizi mikro," katanya.
Seperti dikutip dari Antara, ungkap Arif, tantangan lain yang harus diperhatikan adalah di bidang kesehatan, di mana penularan penyakit dari hewan ke manusia atau zoonosis juga menjadi ancaman global.
"Penyakit masa depan adalah penyakit yang berbasis pada zoonosis, di mana hewan akan menjadi sumber penyakit sehingga sekarang pendekatan One Health sudah menjadi keniscayaan. Kita tidak bisa saja menggantungkan pada ahli-ahli human medicine, sekarang juga veterinary itu juga harus dilihat sebagai partner yang kuat untuk memperkuat riset dan inovasi di bidang kesehatan," ujarnya menegaskan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Arif menyebutkan fenomena seperti ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh para periset, termasuk halnya di bidang sains material yang kini harus menjadi isu yang perlu diperhatikan.
Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung soal riset di bidang metalurgi, di mana terdapat banyak potensi yang bisa dimaksimalkan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.
"Seperti biomaterial. Biomaterial bisa menjadi alternatif ke depan. Karena banyak inovasi yang sudah berkembang, yang kemudian bisa menjadi alternatif bagi bahan material selama ini sudah ada," ucapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Arif juga menyebutkan ekosistem industri seperti elektronika, garmen dan tekstil, hingga alas kaki juga harus mendapatkan penelitian dan pengembangan (RnD) yang setara, sebab berbagai industri tersebut juga berdampak kepada keterserapan tenaga kerja.
"Oleh karena itu, Bapak Presiden juga menyampaikan pesan bahwa industri itu juga harus dilihat agar kita tidak memiliki ketergantungan terhadap industri investor-investor maupun industri dari luar. Begitu pula soal persenjataan, begitu pula soal kesehatan," tutur Arif Satria.
Berorientasi Keberlanjutan
Lebih lanjut, Arif menginginkan berbagai riset yang dilakukan di tanah air berorientasi pada keberlanjutan atau sustainability yang berbasis pada keanekaragaman hayati (biodiversitas) Indonesia.
Ia menyebutkan banyaknya biomaterial yang bisa menjadi alternatif, seperti penggunaan rumput laut untuk bahan dasar pakaian.
"Di Tiongkok, sebagian pakaian tidak lagi bersumber dari cotton, dari kapas, tapi sudah ada rumput laut. Kemudian misalnya kita lihat rompi anti peluru, itu dari limbah sawit. Helm dari limbah sawit. Bahkan sekarang riset tentang kaca, itu bagaimana membuat kaca dari kayu," katanya.
Arif menilai pemanfaatan biomaterial tidak hanya soal pemanfaatan sumber daya yang melimpah di Indonesia, melainkan juga memastikan keberlanjutan sumber material yang telah ada.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!