Seekor Anak Gajah Mati Diduga Keracunan di Kawasan Hutan Produksi Bener Meriah
📅 Selasa, 25 Nov 2025, 14:32 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
BANDA ACEH - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengungkapkan seekor anak gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar ditemukan mati diduga mengonsumsi racun di kawasan hutan produksi, Desa Rikit Musara, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah.
Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata di Banda Aceh, Selasa (25/11), mengatakan anak gajah tersebut berusia kurang lebih lima tahun dengan jenis kelamin betina. Tim dokter hewan sudah melakukan nekropsi atau bedah terhadap bangkai satwa dilindungi tersebut.
"Hasil nekropsi, dugaan sementara kematian anak gajah tersebut mengonsumsi racun. Selain itu, tidak ada bekas luka di tubuh gajah tersebut," kata Ujang Wisnu Barata.
Sebelumnya, warga setempat menemukan bangkai anak gajah tersebut pada Minggu (23/11). Tim dokter hewan BKSDA sudah ke lokasi melakukan nekropsi bangkai satwa tersebut. Pihak terkait juga sudah melakukan olah tempat kejadian.
Ia menyebutkan guna memastikan penyebab kematian satwa liar dilindungi tersebut, tim mengambil beberapa sampel organ vital anak gajah itu untuk pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, kata dia, berdasarkan hasil pemeriksaan di sekitar lokasi anak gajah mati tersebut ditemukan dua gubuk yang sudah roboh. Tim menemukan pestisida di dalam gubuk roboh tersebut.
"Kasus kematian anak gajah ini sudah dilaporkan ke Polres Bener Meriah guna penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut," kata Ujang Wisnu Barata.
Sebelum temuan bangkai anak gajah tersebut, BKSDA Aceh menurunkan tim mencegah interaksi negatif di Desa Rikit Musara. Kawasan gajah dilaporkan masuk pemukiman warga di desa tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ujang Wisnu Barata mengatakan tim berada di lokasi menghalau kawanan gajah tersebut menjauh dari pemukiman dan kembali ke kawasan hutan.
"Kami sudah menurunkan tim menangani kawanan gajah masuk ke pemukiman masyarakat di Kabupaten Bener Meriah. Saat ini tim sedang menggiring kawanan satwa dilindungi tersebut ke habitatnya," katanya.
Penggiringan atau penghalauan kawanan gajah tersebut dilakukan menggunakan bunyi-bunyian nyaring seperti mercon dan lainnya. Penghalauan kawanan gajah agar menjauh dari pemukiman warga tersebut guna mencegah interaksi negatif satwa liar dilindungi tersebut.
"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap interaksi negatif satwa liar dilindungi tersebut," katanya.
Ujang Wisnu Barata mengajak masyarakat mencegah konflik atau interaksi negatif gajah sumatra dengan tidak menanam tanaman disukai atau menarik perhatian gajah di jalur lintasannya, seperti pisang, singkong, jagung, dan lainnya.
"Kami juga mengimbau masyarakat melaporkan kepada petugas maupun pusat panggilan BKSDA jika melihat gajah mendekati perkebunan ataupun pemukiman masyarakat," kata Ujang Wisnu Barata.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!