Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rupiah Hari Ini Melemah, Sinyal Dovish Memudar: Pasar Makin Ragu terhadap Pemangkasan Suku Bunga The Fed

📅 Kamis, 20 Nov 2025, 17:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rupiah Hari Ini Melemah, Sinyal Dovish Memudar: Pasar Makin Ragu terhadap Pemangkasan Suku Bunga The Fed Doc: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja
Ket. Ilustrasi - Petugas bank menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS.

JAKARTA – Rupiah melemah hari ini (20/11) dipengaruhi meningkatnya skeptisisme pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Ekspektasi yang meredup membuat imbal hasil obligasi AS kembali naik, mendorong aliran dana global berpindah ke aset berdenominasi dolar.

Kondisi ini menekan sentimen domestik dan mempersempit ruang stabilisasi nilai tukar, sehingga otoritas moneter perlu mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga tekanan eksternal tetap terkendali.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Kamis (20/11) sore menguat sebesar 28 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.736 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.708 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini, juga melemah di level Rp16.742 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.732 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan kurs rupiah dipengaruhi kenaikan tingkat skeptis, di antara para pejabat Federal Reserve (The Fed) terkait pemangkasan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Desember 2025.

“Para pejabat masih terpecah antara risiko inflasi yang masih ada dan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja. Para pedagang mengurangi ekspektasi untuk pelonggaran lebih lanjut,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Dalam rilis notulen rapat FOMC bulan Oktober, terungkap bahwa sebagian besar pemangku kepentingan yang terlibat pada pertemuan itu menganggap penurunan suku bunga lebih lanjut kemungkinan akan tepat seiring waktu. Namun, beberapa lainnya tak memandang penurunan suku bunga pada bulan Desember sebagai hal yang tepat.

Sebagian besar peserta rapat mencatat penurunan suku bunga lebih lanjut dapat menambah risiko inflasi yang lebih tinggi menjadi berlarut-larut atau dapat disalahartikan sebagai kurangnya komitmen terhadap target inflasi 2 persen.

“Banyak peserta berpendapat bahwa berdasarkan pandangan mereka, mempertahankan suku bunga tidak berubah selama sisa tahun ini adalah langkah yang tepat,” ujar Ibrahim pula.

Fokus pasar hari ini juga berasal dari penundaan rilis laporan ketenagakerjaan AS bulan September, yang seharusnya dapat memberikan wawasan tentang kesehatan pasar tenaga kerja AS dan memberikan lebih banyak petunjuk tentang arah suku bunga AS.

“Para ekonom memperkirakan jumlah tenaga kerja akan naik sekitar 50 ribu, naik dari kenaikan 22 ribu yang tercatat pada bulan Agustus. Angka yang lebih rendah dari perkiraan dapat dengan cepat mengubah ekspektasi pasar untuk pelonggaran suku bunga lebih lanjut,” kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.