Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pengamat Media Sosial Desak Pemerintah Perkuat Pengawasan Lowongan Palsu

📅 Minggu, 26 Okt 2025, 22:45 WIB | Oleh:
Pengamat Media Sosial Desak Pemerintah Perkuat Pengawasan Lowongan Palsu Doc: Drone Emprit
Ket. Pengamat Media Sosial dari Drone Emprit, Ismail Fahmi

JAKARTA - Pengamat Media Sosial dari Drone Emprit, Ismail Fahmi, menilai pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap maraknya penipuan lowongan kerja di media sosial. Menurutnya, pengawasan dan edukasi publik harus berjalan beriringan untuk mencegah praktik perdagangan orang berkedok rekrutmen kerja.

Ismail menjelaskan, platform digital sebenarnya dapat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memfilter iklan palsu. Teknologi tersebut mampu membedakan antara lowongan kerja asli dan penipuan daring.

“Kan ada penggunaan AI itu bisa membedakan antara contoh iklan-iklan yang ternyata palsu dengan yang betul. Contohnya, iklan yang betul biasanya ada situs resminya, PT atau perusahaannya jelas, alamatnya jelas, tidak hanya media sosial saja,” ujar Fahmi, Minggu (26/10).

Namun, Fahmi menilai penindakan terhadap akun penyebar lowongan palsu sering kali tidak efektif. Pelaku umumnya berganti akun dengan cepat sebelum sempat diblokir oleh sistem.

“Ketika mau di-banned, bagus kalau bisa langsung dideteksi dan dihapus. Tapi biasanya, mereka hanya gunakan satu akun untuk sementara, posting selama seminggu, habis itu ganti akun lain, sudah keburu menyebar,” ucap dia.

Ia menyebut penggunaan AI dapat ditingkatkan untuk memberi peringatan di setiap iklan mencurigakan. Namun, komitmen platform masih rendah karena lebih mementingkan interaksi pengguna demi keuntungan bisnis.

"Platform ini kan urusannya bisnis, sedangkan urusan human trafficking itu tanggung jawab pemerintah dan lembaga terkait. Jadi jika kampanye rekrutmen masif di media sosial, maka kampanye edukasi juga harus masif," kata Fahmi.

Fahmi mendorong pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdisi) untuk aktif mengedukasi publik di media sosial. Kampanye digital perlu diperluas dengan melibatkan organisasi masyarakat dan lembaga keagamaan.

"Pemerintah tetap harus jadi orkestra utama, karena punya data, yang kemudian terlihat kelompok mana yang sering jadi korban human trafficking. Dari situ bisa dipetakan, daerah atau kelompok apa, kemudian kerja sama bisa dilakukan, misalnya dengan NU, Muhammadiyah, LSM, atau lainnya," kata Fahmi.

Sementara itu, Senior Manager Migrant Care, Mulyadi menilai pemerintah belum melakukan upaya konkret memperkuat ketahanan digital masyarakat. Ia menilai edukasi bahaya penipuan daring masih sebatas sosialisasi tanpa langkah nyata.

“Belum ada upaya secara sungguh-sungguh itu untuk memperkuat ketahanan di sosial media. Sehingga orang lolos saja ke sana,” ujar Mulyadi.

Ia menegaskan, aparat penegak hukum perlu bertindak tegas menindak akun penyebar lowongan palsu. Selain itu, kerja sama lintas negara perlu diperkuat untuk memberantas sindikat kejahatan siber lintas batas. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Mantan Wamenaker Noel Divon...
Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.