Teknologi Baru Bantu Deteksi Risiko Stroke Sejak Dini
📅 Rabu, 22 Okt 2025, 18:32 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Koran Jakarta - Haryo Brono
JAKARTA – WHO menyatakan, stroke merupakan penyebab kematian tertinggi kedua dan penyebab ketiga tertinggi untuk gabungan kematian dan disabilitas di dunia. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk, berkontribusi sebesar 11,2% terhadap total kecacatan dan 18,5% terhadap total kematian.
Sementara studi Interstroke (2016) di The Lancet mengatakan, sekitar 90% kasus stroke sebenarnya dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, pola makan tidak sehat, stres, dan kurang aktivitas fisik.
Dalam rangka memperingati Hari Stroke Sedunia, Omron Healthcare Indonesia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko stroke. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya stroke apalagi bagi mereka yang lebih beresiko.
Pada kesempatan tersebut, Omron juga memperkenalkan tensimeter terbaru HEM-7383T1. Inovasi ini memungkinkan pengguna memeriksa kemungkinan Atrial Fibrillation (AFib) dengan setiap pengukuran tekanan darah yang merupakan salah satu penyebab utama stroke yang sering kali tidak menunjukkan gejala.
AFib adalah gangguan kelainan irama jantung yang terjadi ketika serambi (atrium) jantung berdenyut dengan tidak beraturan dan cenderung cepat. Penderitanya bisa mengalami penggumpalan darah, stroke, gagal jantung, dan penyakit komplikasi lainnya yang terkait dengan jantung.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Omron percaya bahwa kesehatan jantung dan otak harus dijaga sejak dini, bukan hanya ketika gejala muncul,” kata Director Omron Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe, dalam acara World Stroke Day: Omron Call dor Early Detection di Jakarta pada hari Rabu (22/10).
“Melalui inovasi berbasis teknologi dan edukasi berkelanjutan, kami berkomitmen membantu masyarakat memantau tekanan darah dan mendeteksi potensi gangguan irama jantung seperti AFib dengan lebih mudah dan akurat. Harapan kami sederhana, agar semakin banyak keluarga di Indonesia dapat terhindar dari risiko stroke,” imbuhnya.
Teknologi AFib untuk Deteksi Dini
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejumlah penelitian global menunjukkan keterkaitan erat antara hipertensi dan AFib dalam meningkatkan risiko stroke. Studi Verdecchia et al. (2018) dalam Circulation Research menegaskan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko kuat untuk terjadinya AFib. Pengendalian tekanan darah secara intensif terutama di bawah 120 mmHg dapat mengurangi risiko munculnya AFib secara signifikan.
Sementara itu, studi Framingham oleh Wolf et al. (1991) membuktikan bahwa AFib merupakan faktor risiko independen terhadap stroke, bahkan pada pasien tanpa penyakit jantung rematik.
Menurut Dr. Zicky Yombana Babeheer, SpN, AIFO-K, DAI FIDN, CPS, neurolog dari RS Brawijaya Saharjo & Mayapada Kuningan, “Atrial Fibrilasi adalah salah satu gangguan jantung yang sering tidak disadari karena gejalanya bisa ringan atau bahkan tidak terasa sama sekali. Namun, kondisi ini dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat.
Dengan melakukan pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah, masyarakat dapat mendeteksi perubahan tekanan atau irama jantung lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum terjadi komplikasi serius.”
Menambahkan pentingnya deteksi dini, Asep Aji Fatahilah, Pendiri Komunitas KDS Penyintas Stroke berbagi pengalamannya. Ia mengungkapkan tidak pernah menyangka akan mengalami stroke di usia 19 tahun.
“Saat itu, saya merasa sehat dan tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Hingga suatu hari, seorang teman memeriksa tekanan darah saya, dan hasilnya menunjukkan angka yang sangat tinggi lebih dari 200,” paparnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!