Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia, Lalu Apa Selanjutnya?
📅 Senin, 13 Okt 2025, 01:46 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: ist
JAKARTA - Timnas Indonesia harus mengubur mimpi tampil di Piala Dunia 2026. Harapan itu pupus setelah skuad Garuda kalah 0-1 dari Irak di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, Minggu (12/10) dini hari WIB. Kekalahan ini memastikan Indonesia menjadi juru kunci Grup B putaran keempat kualifikasi zona Asia, setelah juga takluk 2-3 dari Arab Saudi.
Pelatih Patrick Kluivert belum bisa memastikan langkah selanjutnya. Pria asal Belanda itu mengaku ingin melakukan evaluasi menyeluruh sebelum memutuskan masa depannya bersama Garuda. “Belum ada rencana. Kami perlu melakukan refleksi atas apa yang sudah dilakukan. Kami belum bisa menganalisis sekarang. Saya benar-benar tidak tahu yang akan terjadi selanjutnya,” ujar Kluivert seusai laga.
Kluivert mulai menangani Timnas Indonesia sejak Januari 2025, menggantikan Shin Tae-yong yang dipecat PSSI. Dia dikontrak hingga 2026 dengan opsi perpanjangan dua tahun. Namun, dari delapan laga yang telah dijalaninya, Kluivert baru memberikan tiga kemenangan, satu hasil imbang, dan empat kekalahan.
Meski hasilnya mengecewakan, Kluivert minta publik tetap menghargai perjuangan pemain. “Masyarakat Indonesia seharusnya bangga terhadap para pemain yang telah bekerja keras untuk mewujudkan mimpi bersama. Ini bukan hanya mimpi saya, bukan hanya mimpi pemain, tapi mimpi seluruh bangsa. Sulit diterima, karena saya tahu sendiri betapa keras semua orang berjuang,” ucapnya.
Kegagalan Garuda lolos ke Piala Dunia memantik kritik dari berbagai kalangan. Sekretaris Jenderal Paguyuban Suporter Timnas Indonesia, Abe Tanditasik, menilai kekalahan ini seharusnya menjadi momentum besar untuk membenahi sistem sepak bola nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pertama, harus ada roadmap yang jelas. Pembinaan usia dini perlu dihidupkan kembali, kompetisi Suratin harus berjalan, dan liga profesional wajib dijalankan dengan standar tinggi. Kita tak perlu malu belajar ke Jepang. Empat puluh tahun lalu mereka belajar dari kita. Sekarang kita harus rendah hati untuk meniru kesuksesan mereka,” ujar Abe.
Abe juga menilai naturalisasi instan bukan solusi jangka menengah maupun panjang. “Naturalisasi dadakan bukan jalan keluar. Kita butuh sistem pembinaan yang konsisten,” tegasnya. Dia bahkan menyerukan agar Ketua Umum PSSI beserta jajaran pengurusnya mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kegagalan Skuad Garuda.
Faktor Gagal
Sebaiknya Anda baca juga:
Banyak pengamat dan penggemar menilai strategi Patrick Kluivert menjadi salah satu faktor kegagalan. Formasi 4-2-3-1 yang dia terapkan dianggap monoton dan tak efektif menembus pertahanan Irak. Sejumlah pergantian pemain di babak kedua pun tak mampu mengubah jalannya laga.
Di lini depan, striker muda Mauro Zijlstra, 20 tahun, tampil melempem meski mendapat dukungan dari Ricky Kambuaya dan Eliano Reijnders di sisi sayap. Serangan Indonesia kerap buntu dan tak menghasilkan peluang berbahaya. Dari sembilan tembakan yang dilepaskan, hanya satu yang benar-benar mengarah ke gawang Irak yang dikawal Jalal Hasan.
Kekalahan makin menyakitkan karena sejumlah keputusan wasit asal Tiongkok, Ma Ning, dinilai merugikan Indonesia. Salah satunya, insiden di menit-menit akhir ketika Miliano Jonathans dijatuhkan oleh pemain Irak, Zaid Tahseen, di area kotak penalti. Namun Ma Ning hanya memberikan tendangan bebas di luar kotak meski pelanggaran terlihat jelas terjadi di garis batas.
Kemenangan Irak ditentukan oleh gol tunggal Zidane Iqbal di menit ke-76. Prosesnya diawali blunder bek Persija Jakarta, Rizky Ridho, yang kehilangan bola di area sendiri. Kesalahan itu dimanfaatkan dengan cepat oleh pemain Irak untuk membangun serangan dan mencetak gol kemenangan.
Meski gagal, banyak pihak menilai perjuangan Skuad Garuda layak diapresiasi. Indonesia tampil lebih menekan di babak pertama dan menunjukkan peningkatan dalam intensitas permainan. Namun, efektivitas dan disiplin pertahanan Irak membuat peluang Indonesia mentah berkali-kali.
Pengamat sepak bola nasional, Daryono Purnama, menilai Kluivert masih perlu waktu beradaptasi dengan kultur sepak bola Indonesia. “Dia datang dengan filosofi Eropa yang butuh fondasi kuat. Tapi, kita tak punya sistem pembinaan yang mendukung itu. Jika Kluivert bertahan, PSSI harus mendukung dengan program jangka panjang,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!