Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Napabale, Saat Danau dan Lautan Bersua

📅 Jumat, 26 Sep 2025, 07:43 WIB | Oleh:
Napabale, Saat Danau dan Lautan Bersua Doc: ANTARA/Zabur Karuru
Ket. Dua orang anak-anak bermain di perahu wisata di danau Napabale di desa Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.. Danau yang terbentuk akibat masuknya air laut dari Selat Buton ke bebatuan yang berbentuk cawan tersebut merupakan sala satu objek wisata di Muna.

DANAU Napabale, di Pulau Muna merupakan salah satu fenomena alam paling unik di Indonesia. Perairan dengan luas 43,40 hektar ini memiliki kanal berupa terowongan yang menghubungkannya dengan perairan air laut Selat Buton yang berada di sisi timurnya.

Selat Buton merupakan perairan yang memisahkan Pulau Muna dengan Pulau Buton. Selat sempit ini memiliki panjang kira-kira 90–100 kilometer dari ujung utara di Laut Banda dan di sisi selatan berakhir di Laut Flores.

Perairan Danau Napabale sendiri berada di kaki perbukitan karst. Sebuah terowongan yang terbentuk secara alami menghubungkannya dengan perairan laut ketika sedang pasang. Saat surut lorong sepanjang 30 meter dengan lebar 9 meter, dapat dilalui dengan menggunakan perahu.

Lorong ini seolah membuat Napabale “bernapas” mengikuti detak jantung pasang surut air laut. Airnya yang jernih dan tenang menjadikannya tempat yang ideal untuk berenang, bermain air, atau sekadar menikmati ketenangan alam.

Namun saat air pasang terowongan ini akan terendam air laut. Oleh karenanya tidak disarankan untuk berenang menerobos lorong yang cukup panjang ini. Saat paru-paru kehabisan udara perenang akan kesulitan mendapatkan oksigen karena tidak ada tempat untuk timbul, yang dampaknya bisa membahayakan nyawa.

Mengapa disebut danau padahal terhubung dengan laut? Secara definisi dasar, danau adalah cekungan di daratan yang dikelilingi tanah dan berisi air. Dengan demikian meskipun terhubung dengan luat dan berair payau, perairan tersebut tetap disebut danau. Alasannya berada di dalam cekungan alami di daratan.

Napabale sebagian besar sisinya dikelilingi bukit karst atau daratan berbatu kapur. Bentuknya menyerupai danau pada umumnya, tenang dan membulat. Airnya tetap berada di cekungan meskipun ada saluran sempit alami yang menghubungkannya ke laut.

Secara geologis, Napabale awalnya adalah cekungan karst atau dolina lubang besar di batuan kapur akibat pelarutan air tanah. Awalnya cekungan ini berisi air hujan dan air tanah seperti danau biasa pada umumnya. Namun secara perlahan erosi yang terjadi membentuk saluran alami yang akhirnya menyatukan dengan laut.

Proses terbentuknya yang khas itulah yang membuat masyarakat dan ahli geografi tetap menyebutnya “danau,” bukan “teluk” atau “laguna.” Teluk sendiri adalah tubuh perairan yang menjorok ke daratan dan dibatasi oleh daratan pada ketiga sisinya.

Sedangkan laguna sekumpulan air asin relatif dangkal yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, terumbu karang, pulau penghalang, semenanjung penghalang, atau tanah genting. Karena airnya Napabale tergolong payau maka tidak termasuk dalam kategori laguna.

Proses terbentuknya Danau Napabale terjadi karena hasil dari perpaduan proses geologi, hidrologi, dan dinamika laut yang berlangsung selama ribuan hingga jutaan tahun. Pertama terjadinya pelapukan karst, air melarutkan batuan kapur dan membentuk cekungan.

Setelah itu terjadi pembentukan dolina, atau pengisian cekungan besar oleh air hujan dan air tanah. Lalu terbentuk terowongan alami karena cekungan yang ada terhubung ke laut akibat erosi. Hal ini membuat perairan ini terpengaruh pasang surut karena air laut masuk saat pasang, keluar saat surut. Setelah itu tercipta ekosistem yang stabil berupa habitat khas danau payau yang unik.

Secara geografis, Napabale terletak di Desa Lohia, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, sekitar 15 kilometer dari Kota Raha, ibu kota kabupaten ini. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 hingga 30 menit melalui jalan darat.

Begitu sampai pengunjung akan disambut hamparan air biru kehijauan menyambut dengan tenangnya. Dari puncak Liano Napabale pengunjung bisa melihat perairan ini dikelilingi tebing-tebing batu kapur yang menjulang dengan tekstur tajam. Pepohonan tropis berukuran pendek tumbuh rimbun di sekelilingnya. Suasana ini bisa membuat siapa pun yang datang merasakan kedamaian sekaligus kekaguman.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Indonesia Buka Peluang Pena...

Gempa  Venezuela Telah Menelan hamper 5.000 Korban Jiwa

54 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Luar Negeri
Gempa  Venezuela Telah Men...
Nasional
Cermati Harga BBM untuk Kap...
Megapolitan
Kebakaran di Cakung Timur D...

Evaluasi! Jangan Sampai Terulang Ledakan di Madiun

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Evaluasi! Jangan Sampai Ter...

Zaman Makin Unik, Daun Bambu Saja Sekarang Diekspor!

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Zaman Makin Unik, Daun Bamb...
Porprov NTB 2026: 4.860 Atlet Bersiap Masuk Radar PON 2028

Porprov NTB 2026: 4.860 Atlet Bersiap Masuk Radar PON 2028

16 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.