Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Program Magang Nasional Disorot, Akademisi Ingatkan Risiko Ketimpangan Relasi Kerja

📅 Kamis, 25 Sep 2025, 17:30 WIB | Oleh:
Program Magang Nasional Disorot, Akademisi Ingatkan Risiko Ketimpangan Relasi Kerja Doc: Dok. umy.ac.id

YOGYAKARTA – Program Magang Nasional 2025 yang ditujukan bagi lulusan baru (fresh graduate) sarjana dengan bayaran setara Upah Minimum Regional (UMR) menuai catatan kritis dari kalangan akademisi. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., menilai program yang melibatkan sektor swasta, BUMN, hingga lembaga pemerintah ini menyimpan dilema.

Menurutnya, program tersebut dapat menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Namun, di sisi lain, ada potensi eksploitasi terhadap lulusan baru yang masih lemah daya tawarnya.

“Anggapan para pemilik usaha bahwa fresh graduate pasti lebih murah dan tidak banyak menuntut membuka kemungkinan eksploitasi tenaga kerja,” ujar Zuly Qodir, Kamis (25/9).

Guru Besar Sosiologi UMY ini menegaskan, dalam relasi ketenagakerjaan, pekerja sering kali berada di posisi lemah di hadapan pemilik modal. Kondisi itu kian berat karena serikat pekerja di Indonesia cenderung melemah, sehingga lulusan baru yang belum memiliki daya kritis menjadi kelompok paling rentan.

Meski disebut sebagai “magang berbayar”, Zuly menekankan perusahaan tetap tidak boleh bertindak sewenang-wenang. “Harus ada jaminan bahwa tidak terjadi eksploitasi tenaga kerja, meskipun mereka hanya berstatus magang,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi sehat antara dunia usaha dan perguruan tinggi. “Dunia usaha memang membutuhkan tenaga terampil, dan perguruan tinggi menyediakannya. Tetapi bukan berarti mereka bisa dibayar murah,” tambahnya.

Menurut Zuly, program magang tetap bisa memberi manfaat jika ditempatkan sebagai sarana pembelajaran. Lulusan baru akan memperoleh pengalaman kerja meski dengan penghasilan terbatas. Di sisi lain, dunia usaha juga harus menyadari bahwa tenaga magang belum sepenuhnya terampil.

“Pada akhirnya, perguruan tinggi harus menyiapkan lulusannya agar siap bersaing di dunia kerja, sekaligus memastikan mereka tidak jatuh dalam lingkaran eksploitasi,” pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.