Sumitronomics, Role Model untuk Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi
📅 Rabu, 24 Sep 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiArah Baru
Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menyambut baik diperkenalkannya konsep “Soemitronomics” oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai arah baru pembangunan ekonomi Indonesia. Menurutnya, gagasan tersebut relevan untuk menjawab tantangan Indonesia agar segera keluar dari jebakan pendapatan menengah dan mewujudkan target pertumbuhan 8 persen.
Aditya menegaskan, salah satu pilar penting Soemitronomics adalah stabilitas nasional. Namun ia mengingatkan, stabilitas di era modern tidak boleh mengulang praktik masa lalu. “Di masa Orde Baru, stabilitas dicapai dengan membungkam protes rakyat. Itu keliru dan sudah tidak bisa lagi diterapkan di era keterbukaan. Stabilitas justru akan tercapai jika saluran-saluran demokrasi diperbaiki, dan aspirasi rakyat didengarkan,” tegasnya kepada Koran Jakarta.
Menurutnya, perkembangan teknologi, media sosial, dan artificial intelligence menjadikan keterbukaan sebagai keniscayaan zaman. Siapa pun yang tidak bekerja sesuai mandatnya, termasuk pejabat publik atau wakil rakyat, akan menghadapi tekanan publik.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau haknya berlebihan tapi tidak kerja, zaman keterbukaan ini pasti akan menggulung mereka. Jadi stabilitas kini justru menuntut pemerintahan yang transparan dan responsif,” tambah Aditya.
Ia juga menekankan pentingnya pilar pertumbuhan tinggi yang berkualitas. Aditya menekankan, pertumbuhan hanya akan berkelanjutan jika berbasis pada kemampuan dalam negeri, mulai dari industri manufaktur, pangan, hingga teknologi digital. Dengan begitu, Indonesia tidak lagi bergantung pada impor dan dapat menghindari jebakan pendapatan menengah.
“Rakyat menunggu bukti bahwa pertumbuhan tinggi ini bukan sekadar angka, melainkan terasa dalam kehidupan sehari-hari. Soemitronomics akan bermakna jika bisa memperkuat daya beli masyarakat, memperluas lapangan kerja, dan memberi kesempatan yang adil bagi semua. Dengan begitu, jalan menuju negara maju akan semakin nyata,” pungkas Aditya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada kesempatan terpisah, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan tiga pilar dari Soemitronomics dalam jangka pendek harus bisa berjalan seiring, agar tidak bersifat “trade off” atau terjadi pertukaran.
Sebab, pertumbuhan ekonomi yang tinggi seringkali harus mengorbankan pemerataan dan juga stabilitas ekonomi misalnya kenaikan inflasi. “Jika ingin tidak terjadi trade off, maka diperlukan anggaran yang besar untuk meningkatkan kapasitas ekonomi,” kata Suhartoko.
Untuk itu, kemampuan pemerintah meningkatkan anggaran, mengundang investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) sangat penting.
“Dengan kondisi infrastruktur, perizinan, keamanan dan kepastian usaha saat ini, apakah mampu mendongkrak investasi secara besar besaran,” tegasnya.
Untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen memang sangat bagus, namun butuh terobosan dan pembenahan serta kerja keras yang sangat luar biasa.
Pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan keunggulan utama Soemitronomics karena menekankan pentingnya pemerataan manfaat pembangunan guna memastikan bahwa seluruh lapisan dapat menikmati hasil pembangunan dengan mengembangkan sektor resilien seperti pertanian, dan manufaktur yang padat karya. “Jika bisa dipadukan dengan hilirisasi sumber daya alam yang bernilai tambah dampaknya bisa lebih dahsyat,”pungkas Wibisono.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!