Dodo, Burung yang Telah Punah Akan Kembali
📅 Senin, 22 Sep 2025, 07:56 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Pedro MATTEY/AFP
SALAH satu dari sekian spesies yang telah punah adalah burung dodo. Hewan dari keluarga Columbidae sama dengan merpati ini dengan habitat di Pulau Mauritius ini menjadi simbol kepunahan akibat ulah manusia.
Ciri-cirinya paruh besar, melengkung, dan kuat, sayap yang kecil membuatnya tidak bisa terbang. Ekornya pendek berbulu keriting, tubuh bulat dan gemuk.
Burung dodo hidup di hutan Mauritius. Karena tidak ada predator darat besar di pulau itu, dodo tidak perlu terbang dan berevolusi menjadi burung darat sebelum manusia datang. Makanan utama adalah buah-buahan jatuh, biji, akar, bahkan mungkin krustasea atau siput.
Dodo punah sekitar tahun 1681, hanya atau kira-kira hanya 80 tahun setelah kedatangan orang Eropa di Mauritius. Perburuan berlebihan oleh pelaut dan pendatangm juga oleh hewan invasif yang dibawa manusia seperti babi, anjing, kucing, monyet, tikus, yang memakan telur dan anak dodo menjadi penyebab kepunahannya.
Dodo mungkin saja akan dari kepunahannya. Ribuan burung dodo dapat segera kembali menghuni Mauritius yang menjadi rumah spesies tersebut, menurut sebuah perusahaan “de-extinction” yang telah mengumumkan terobosan besar dalam upayanya untuk menghidupkan kembali burung yang tidak dapat terbang tersebut.
Colossal nama perusahaan biosasin itu menyatakan pada hari Rabu (17/9) bahwa mereka telah berhasil menumbuhkan sel germinal primordial merpati, sel prekursor sperma dan sel telur, untuk pertama kalinya. Ini adalah “langkah penting” dalam menghidupkan kembali dodo, yang merupakan sejenis merpati, untuk pertama kalinya dalam lebih dari 300 tahun.
Colossal, sebuah perusahaan yang berbasis di Texas ini, yang telah menjadi berita utama heboh karena rencananya untuk memulihkan populasi mammoth berbulu dan serigala ganas, mengatakan bahwa mereka juga telah mengembangkan ayam hasil rekayasa genetika yang akan bertindak sebagai pengganti dodo.
Ayam-ayam tersebut akan disuntik dengan sel germinal primordial dari merpati Nicobar, kerabat terdekat dodo yang masih hidup. Sel-sel ini nantinya, setelah rekayasa genetika untuk menciptakan bentuk tubuh dan kepala yang diinginkan, akan memungkinkan mereka untuk mengembangbiakkan dodo.
“Perkiraan kasarnya, kami pikir masih lima hingga tujuh tahun lagi, tetapi bukan 20 tahun lagi,” kata Ben Lamm, CEO Colossal, tentang jadwal kembalinya dodo, seperti diwartakan The Guardian.
Colossal bekerja sama dengan kelompok-kelompok pecinta satwa liar untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang aman dan bebas tikus di Mauritius di mana spesies ini dapat kembali berkeliaran.
“Tujuan kami adalah menghasilkan cukup banyak dodo dengan rekayasa keragaman genetik yang memadai sehingga kami dapat mengembalikannya ke alam liar di mana mereka dapat benar-benar berkembang biak,” ujarnya.
“Jadi, kami tidak ingin menghasilkan dua dodo, kami ingin menghasilkan ribuan,” imbuhnya.
Colossal menyatakan yakin metodenya, yang berpusat pada teknologi penyuntingan gen Crispr, dapat memutar balik waktu dan mengembalikan dodo ke habitat aslinya. Beth Shapiro, kepala ilmiah Colossal yang memiliki tato dodo di lengannya, mengatakan terobosan “sangat menarik” ini muncul setelah setahun bekerja untuk mengedit gen burung, yang lebih rumit untuk dikerjakan dengan cara ini daripada mamalia.
“Ini bukan proses di mana kita suatu hari nanti akan membuang ribuan dodo ke Mauritius. Tentu saja ini akan menjadi proses yang lambat, hati-hati, dan penuh pertimbangan,” kata Shapiro.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!