Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Warga Banyumas Mendesak Tunjangan Perumahan DPRD Dihapus

📅 Jumat, 19 Sep 2025, 14:16 WIB | Oleh:
Warga Banyumas Mendesak Tunjangan Perumahan DPRD Dihapus Doc: ist
Ket. unjuk rasa hapus tunjangan dewan

BANYUMAS – Masyaraka Kabupaten Banyumas mendesak pemkab agar menghapus jatah tunjangan untuk DPRD setempat, seperti dilakukan di tempat lain.

Untuk itu, pakar kebijakan publik dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Slamet Rosyadi menyoroti pentingnya transparansi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, Jawa Tengah, terkait penetapan tunjangan perumahan bagi anggota DPRD setempat yang dinilai publik sangat besar.

"Pemerintah daerah itu harus transparan menyampaikan kepada publik, dari mana formula itu berasal, kenapa tiba-tiba muncul angka seperti itu," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas Jumat.

Menurut dia, penjelasan yang rinci dan terbuka mengenai komponen biaya akan mengedukasi masyarakat terkait dengan besaran tunjangan perumahan bagi anggota DPRD Kabupaten Banyumas sebagaimana tercantum dalam Peraturan Bupati Banyumas Nomor 9 Tahun 2024 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Bupati Banyumas Nomor 66 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banyumas.

Tanpa adanya transparansi, kata dia, publik akan bertanya-tanya dan berpotensi menimbulkan persepsi negatif, terutama karena nominal tunjangan tersebut mencapai Rp42.625.000 per bulan untuk Ketua DPRD, Rp34.650.000 per bulan untuk Wakil Ketua DPRD, dan Rp23.650.000 per bulan untuk anggota DPRD.

Ia menilai jika tidak diinformasikan secara lengkap mengenai peruntukannya, angka tersebut bisa dianggap tidak patut untuk standar biaya hidup di Kabupaten Banyumas. "Itu sangta besar untuk ukuran di Kabupaten Banyumas. Sangat besar itu, mau tinggal di mana, di perumahan mewah atau seperti apa?" katanya.

Berdasarkan informasi, kata dia, nilai kontrak rumah mewah di Purwokerto saat ini berada pada kisaran Rp120 juta per tahun yang berarti sebesar Rp10 juta per bulan. Lebih lanjut, dia mengatakan pejabat publik semestinya menunjukkan empati dan menjadi teladan bagi masyarakat dengan menerapkan pola hidup sederhana. Menurut dia, citra kemewahan akan melekat jika besaran tunjangan tersebut tidak disertai justifikasi yang jelas dan dapat diterima publik.

"Kuncinya itu ya transparansi terkait bagaimana formulasi itu bisa muncul, dari mana angkanya," kata Prof Slamet. Dalam kesempatan terpisah, pakar hukum pidana Unsoed Prof Hibnu Nugroho mengatakan penetapan nilai tunjangan yang tidak wajar berpotensi mengarah pada praktik penggelembungan harga atau mark up.

Oleh karena itu, kata dia, asas kepatutan dan kelaikan perlu menjadi pertimbangan utama dalam penentuan besaran tunjangan yang bersumber dari keuangan negara. "Soal appraisal (penilaian) itu bisa masuk kualifikasi mark up. Kalau tidak sesuai dengan kualifikasi yang ada, ya bisa dipermasalahkan," katanya.

Ia mencontohkan jika di kabupaten lain nilai tunjangan rata-rata Rp50 juta, sementara di Banyumas ditetapkan Rp100 juta tanpa dasar pembanding yang memadai, maka penetapan tersebut patut dipertanyakan. Menurut dia, langkah itu keliru baik secara hukum maupun etika pengelolaan keuangan negara.

"Asas kepatutan itu harus muncul. Harus ada patokan harga dan nilai yang sesuai dengan kondisi daerah," katanya menegaskan. Sebelumnya, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengaku masih menunggu perkembangan dan akan melibatkan berbagai pihak termasuk DPRD terkait dengan kemungkinan adanya kajian ulang terhadap nilai tunjangan perumahan anggota DPRD Kabupaten Banyumas seperti yang tercantum dalam Perbup Banyumas Nomor 9 Tahun 2024 karena dianggap terlalu tinggi.

Ia mengaku tidak bisa serta merta menurunkan nilai tunjangan perumahan tersebut karena harus melalui mekanisme bersama DPRD Kabupaten Banyumas. "Kalau saya tiba-tiba menurunkan tanpa dasar tentu tidak tepat. Bola sekarang ada di Dewan, nanti kita diskusikan bersama. Yang jelas mekanisme harus ditempuh sesuai aturan," katanya di Purwokerto, Kamis (18/9).

Sadewo mengatakan peraturan bupati tersebut dibuat sebelum dia menjadi Bupati Banyumas, yakni semasa kepemimpinan Penjabat Bupati Hanung Cahyo Saputro.


Pewarta : Sumarwoto

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

58 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.