Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Krisis Gizi Anak Makin Parah, UNICEF Soroti Konsumsi Gula Picu Krisis Obesitas Anak

📅 Senin, 15 Sep 2025, 15:12 WIB | Oleh:
Krisis Gizi Anak Makin Parah, UNICEF Soroti Konsumsi Gula Picu Krisis Obesitas Anak Doc: Ilustrasi

JAKARTA - Laporan terbaru dari UNICEF menyoroti krisis gizi global, khususnya pada anak-anak, dengan peningkatan signifikan kasus obesitas yang bahkan melampaui malnutrisi di beberapa kawasan.

Laporan ini secara spesifik menyebutkan bahwa konsumsi makanan dan minuman olahan yang tinggi gula menjadi salah satu pemicu utamanya. Laporan ini juga mengaitkan masalah ini dengan kurangnya regulasi, pelabelan yang menyesatkan, dan pemasaran yang agresif.

Dalam laporannya, disebutkan bahwa di beberapa negara, bayi bahkan sudah mulai mengonsumsi makanan dan minuman manis olahan pada usia yang sangat muda. Konsumsi gula berlebihan sejak dini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius, termasuk obesitas, kelesuan, hiperaktif, serta penurunan sistem imunitas.

Secara tidak langsung, hal ini memperkuat kekhawatiran yang sudah lama ada tentang kental manis, terutama di Indonesia. Meskipun banyak yang masih salah kaprah menganggapnya sebagai susu, kental manis sebenarnya adalah produk dengan kandungan gula yang sangat tinggi dan protein yang sangat rendah.

Dalam penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES) terhadap 100 balita di Kecamatan Semarang Utara dan Gunungpati baru-baru ini, terungkap bahwa pemberian kental manis untuk anak sebagai minuman susu yang diksonsumsi secara rutin karea orang tua tidak paham dampak konsumsi gula berlebih pada anak. 

Peneliti Unnes, Dr. menduga, pola asuh dan sebaran informasi yang tidak merata terhadap masyarakat mengakibatkan masih banyak yang tidak memahami bahaya kental manis untuk anak.

"Kental manis berbahaya karena tinggi gula. Efeknya ke depan jadi sangat riskan, bisa jadi pre-diabetesnya meningkat atau gangguan kepada ginjalnya. Salah satu penyebabnya mungkin itu ya, bahwa informasinya belum semuanya tersampaikan ke seluruh masyarakat,” kata Mardiana dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/9).

Mengutip pengakuan salah satu responden asal kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunung Pati yang juga orang tua dari balita berumur 3 tahun menyebutkan frekwensi konsumsi kental manis anaknya sebanyak 7 kali per hari. Ia memberikan kental manis karena pada kemasannya tertulis “susu” dan dalam iklan juga disebut demikian.

“Saya baca di situ ada kata susu, ya jadi saya pikir ya memang susu. Di iklan juga tahunya susu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, terhadap ancaman konsumsi gula berlebih pada anak, UNICEF mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk mengambil tindakan tegas guna mengatasi krisis ini.

Diantara rekomendasi yang disampaikan adalah menerapkan regulasi yang ketat terhadap industri makanan, termasuk pelabelan gizi serta meningkatkan edukasi untuk masyarakat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Logistik Hijau Dinilai Kunci Menangkan Persaingan Industri
    Preview komentar:
    Inisiatif mulia dari Kementerian Kehutanan terkait optimalisasi rute ...
  • ESDM: Efisiensi Energi Bisa Pangkas 37 Persen Emisi Sektor Energi, Industri Makin Untung
    Preview komentar:
    Langkah proaktif pemerintah melalui program percontohan SETI ini ...
  • Fenomena Langit Agustus 2026: Gerhana Matahari Total, Hujan Meteor, Blood Moon hingga 6 Planet Sejajar
    Preview komentar:
    Membaca rangkuman fenomena langit Agustus 2026 di artikel ...
Advertisement
gaia musik festival
Jangan Sampai Lewat! Pemutihan Pajak Kendaraan di Kepri Obral Diskon Hingga Gratis Balik Nama

Jangan Sampai Lewat! Pemutihan Pajak Kendaraan di Kepri Obral Diskon Hingga Gratis Balik Nama

09 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.