Demo dan Huru-hara Tekan Pasar, Ekonom UGM Ingatkan Pentingnya Stabilitas Politik
📅 Kamis, 04 Sep 2025, 18:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. Freepik
YOGYAKARTA – Gelombang demonstrasi dan kericuhan pada akhir pekan lalu dinilai berdampak pada menurunnya kepercayaan pasar, memicu kekhawatiran dunia internasional, hingga membuat sejumlah negara mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning) ke Indonesia.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Denni Puspa Purbasari menilai gejolak politik dan sosial wajar menekan perekonomian nasional. “Untuk bisa tumbuh, ekonomi perlu stabilitas politik. Itu sudah ditegaskan sejak era Trilogi Pembangunan zaman Presiden Soeharto,” ujarnya di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Kamis (4/9).
Menurut Denni, trilogi pembangunan mencakup tiga aspek yang saling terkait, yaitu stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pemerataan hasil pembangunan. Ia menilai konsep tersebut tetap relevan hingga kini.
Salah satu indikator turunnya kepercayaan pasar terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada periode puncak demonstrasi, Kamis (28/8) hingga Senin (1/9), IHSG merosot 2,7 persen, dari 7.952,09 menjadi 7.736,07. Penurunan ini setara dengan hilangnya kapitalisasi pasar sekitar Rp 385–391 triliun. “Itu merefleksikan confidence pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia menurun, sementara risiko dipersepsikan meningkat,” jelasnya.
Meski begitu, ia menekankan tidak semua saham bergerak negatif karena sejumlah sektor atau emiten tetap memiliki katalis positif. Namun, secara keseluruhan gejolak politik menciptakan *market risk* yang menekan pasar modal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Denni menambahkan, dunia usaha perlu melakukan mitigasi. Perusahaan besar biasanya memiliki manajemen risiko, jaringan, modal, hingga instrumen perlindungan seperti asuransi. Sebaliknya, usaha kecil menengah (UKM) jauh lebih rentan. “Kalau UKM berhenti tiga hari saja, itu setara dengan hilangnya 10 persen omset bulanan,” katanya.
Ia mengingatkan, tekanan terhadap IHSG bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, aksi besar seperti demo 212 juga berdampak pada pasar, meski skalanya berbeda. Bahkan, pada krisis 1998, IHSG anjlok lebih dari 50 persen akibat krisis multidimensi.
Untuk itu, Denni menilai penguatan ekonomi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat. Dalam situasi ketidakpastian, ia menyarankan rumah tangga memperketat pengeluaran, menabung, dan menyiapkan dana darurat. “Dampaknya memang perlambatan ekonomi, tapi langkah ini tidak bisa dihindari,” tegasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!