UGM Serukan Gerakan Damai, Tegaskan Kekerasan Hanya Perpanjang Luka Sosial
📅 Minggu, 31 Agu 2025, 17:40 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. UGM
Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan seruan moral bagi bangsa di tengah meningkatnya eskalasi aksi massa di berbagai daerah. Seruan tersebut dibacakan langsung oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, di Balairung UGM, Minggu (31/8), sebagai bentuk kepedulian sivitas akademika terhadap kondisi sosial politik yang dinilai kian memprihatinkan.
“Kami menyampaikan duka yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dan luka-luka dalam rangkaian aksi massa, dan mengimbau semua pihak untuk menghentikan tindakan kekerasan dan anarkisme demi menjaga nilai kemanusiaan dan kemartabatan,” ujar Rektor UGM.
Prof. Ova menegaskan kampus mendukung sepenuhnya gerakan damai dan nonkekerasan dalam menyuarakan tuntutan masyarakat. Menurutnya, kekerasan hanya akan memperpanjang luka sosial, sementara jalur damai membuka ruang dialog yang lebih konstruktif. “UGM mendukung gerakan damai atas tuntutan masyarakat untuk mendorong pemerintah melakukan perbaikan menyeluruh, khususnya dalam penegakan hukum, pemulihan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan,” jelasnya.
Dalam seruan itu, UGM juga mengingatkan pemerintah dan DPR untuk mengevaluasi dan membatalkan kebijakan yang dinilai tidak adil, memperlebar kesenjangan sosial, serta mengancam demokrasi. “UGM mengingatkan Pemerintah dan DPR agar membatalkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan dan mengancam keberlangsungan demokrasi,” paparnya.
Seruan tersebut turut ditujukan kepada mahasiswa agar tetap berperan aktif mengawal kondisi bangsa dengan cara yang konstruktif. “UGM mendorong mahasiswa untuk menunjukkan kepedulian terhadap kondisi bangsa dengan cara yang penuh kehati-hatian dalam setiap tindakan,” imbuh Prof. Ova.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rektor juga menyampaikan pesan kepada aparat penegak hukum agar lebih responsif, adil, dan manusiawi dalam meredam konflik sosial. “Kami mengimbau penyelenggara negara dan pihak berwenang untuk mendengarkan aspirasi masyarakat secara saksama agar korban tidak lagi berjatuhan dan ketertiban serta keamanan segera pulih,” tegasnya.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, menambahkan bahwa perubahan hanya dapat dicapai melalui cara damai. Ia mengingatkan bahwa kekerasan justru berpotensi menciptakan spiral konflik yang merugikan rakyat. “Demonstrasi besar jangan sampai terjebak pada kekerasan, karena kekerasan hanya akan melahirkan korban,” ujarnya.
Arie menilai langkah represif pemerintah justru memperparah ketegangan dan memperlebar jurang ketidakpercayaan. Negara, menurutnya, harus hadir dengan solusi nyata, bukan sekadar retorika. “Pemerintah harus segera merespon dengan langkah konkret, minimal mengurangi tindakan represif karena itu membahayakan rakyat,” tuturnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia juga menyoroti akumulasi masalah struktural seperti pengangguran, tekanan ekonomi, hingga kebijakan anggaran yang kontroversial sebagai pemicu eskalasi massa. Menurutnya, suara kritis masyarakat harus dipandang sebagai masukan, bukan ancaman. “Mari kita hentikan kekerasan, tapi sikap kritis dan aksi tetap harus disuarakan agar pemerintah segera melakukan perbaikan,” pungkas Arie.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!