Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Beli Gas LPG 3 Kg Tak Bisa Sembarangan, Mulai 2026 Wajib Lewat Verifikasi

📅 Rabu, 27 Agu 2025, 23:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Beli Gas LPG 3 Kg Tak Bisa Sembarangan, Mulai 2026 Wajib Lewat Verifikasi Doc: ANTARA/HO-Pertamina Patra Niaga
Ket. Arsip Foto - Petugas menyiapkan distribusi tabung LPG subsidi ukuran tiga kilogram di salah satu stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE), di Denpasar, Bali.

JAKARTA – Sistem distribusi LPG 3 kilogram (kg) bersubsidi memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial-ekonomi masyarakat kecil. Tabung gas ini ditujukan khusus bagi rumah tangga miskin, nelayan kecil, dan pelaku UMKM mikro yang sangat bergantung pada energi murah untuk kebutuhan sehari-hari maupun keberlangsungan usaha. Karena itu, distribusi yang tepat sasaran menjadi kunci agar subsidi energi benar-benar sampai kepada kelompok yang membutuhkan, bukan sekadar mengalir ke pasar bebas.

Pengelolaan distribusi LPG 3 kg yang baik juga erat kaitannya dengan stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Distorsi atau kebocoran distribusi sering kali menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga di tingkat pengecer, yang justru membebani kelompok miskin. Dengan sistem distribusi yang lebih terukur—misalnya melalui digitalisasi, integrasi data penerima, dan pemantauan stok di berbagai wilayah—pemerintah dapat menekan potensi penyalahgunaan, memperbaiki efisiensi logistik, dan memastikan pasokan tetap terjaga hingga ke pelosok.

Dari perspektif makro, distribusi LPG bersubsidi yang efektif turut mendukung pengendalian inflasi. Harga energi, terutama LPG, memiliki bobot signifikan dalam komponen inflasi volatile food dan administered prices. Gangguan distribusi yang menyebabkan kelangkaan dapat memicu inflasi energi, yang kemudian berdampak luas pada stabilitas perekonomian nasional.

Lebih dari itu, penguatan sistem distribusi LPG 3 kg juga menjadi langkah transisi menuju kebijakan energi yang lebih berkelanjutan. Sembari menjaga akses energi terjangkau bagi masyarakat kecil, pemerintah dapat menyiapkan program jangka panjang seperti konversi ke energi bersih, namun dengan tetap mengandalkan distribusi LPG yang tepat sasaran sebagai penyangga di masa transisi.

Dengan demikian, distribusi LPG bersubsidi 3 kg bukan hanya isu logistik semata, melainkan instrumen penting dalam menjaga keadilan sosial, daya beli masyarakat, serta stabilitas ekonomi nasional.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan sebuah sistem untuk memverifikasi data para pembeli LPG bersubsidi 3 kilogram (kg) yang mulai diberlakukan tahun depan (2026).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan selama ini pembelian LPG 3 kg hanya sebatas mengumpulkan fotokopi KTP saja, sehingga tidak terdata dalam sistem.

"Kami akan membangunkan sistem. Itu sistemnya sudah ada, tapi bagaimana secara sistem itu bisa lebih cepat, agar tidak berulang-ulang lagi setiap orang menyerahkan copy KTP," ujar Yuliot, di Jakarta, Rabu (27/8).

Pola lama tersebut, kata Yuliot, membuat pemerintah sulit untuk memastikan bahwa LPG subsidi telah tepat sasaran, padahal gas 3 kg ini diperuntukkan bagi rumah tangga yang tidak mampu, usaha mikro, nelayan dan petani.

Lebih lanjut, sistem tersebut nantinya akan disesuaikan dengan domisili penerima manfaat, sehingga datanya lebih akurat.

"Jadi maksud Pak Menteri (Bahlil Lahadalia) pada saat itu sesuai dengan KTP, tidak berulang-ulang. Itu harus sesuai dengan domisili masyarakat yang bersangkutan," ujarnya pula.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berencana untuk menetapkan LPG satu harga. Ia menyampaikan Kementerian ESDM melanjutkan upaya transformasi subsidi LPG 3 kg menjadi berbasis penerima manfaat.

Pelaksanaan transformasi LPG 3 kg akan dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan data, infrastruktur, serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Ia juga menetapkan kebijakan LPG (gas alam cair) satu harga untuk tabung 3 kg pada 2026 melalui revisi Perpres Nomor 104 Tahun 2007 dan Perpres Nomor 38 Tahun 2019.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...

Produksi ikan kering di Maumere turun

23 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Produksi ikan kering di Mau...

Pameran benda seni jaranan di Trenggalek

28 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pameran benda seni jaranan ...
Nasional
Bupati Pati nonaktif Sudewo...
Nasional
Kepala Bapanas: Pemerintah ...

Kejuaraan hadang tingkat pelajar

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Rona
Kejuaraan hadang tingkat pe...
Daerah
Bantuan alsintan modern unt...

Penumpukan sampah di Kabupaten Gowa

48 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Penumpukan sampah di Kabupa...
Luar Negeri
Mesir Gandeng Teknologi Tio...
Advertisement
Kepala Bapanas: Pemerintah Tak Beri Ruang Bagi Mafia Beras

Kepala Bapanas: Pemerintah Tak Beri Ruang Bagi Mafia Beras

22 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.