Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Janggal, Pertumbuhan Ekonomi 5,12%, BPS Dinilai Tidak Wakili Kondisi Nyata

📅 Rabu, 06 Agu 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Janggal, Pertumbuhan Ekonomi 5,12%, BPS Dinilai Tidak Wakili Kondisi Nyata Doc: ANTARA/Dhemas Reviyanto
Ket. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) didampingi Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy (kiri) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menyampaikan paparan pada konferensi pers pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025

JAKARTA - Para pemerhati ekonomi meragukan data Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (5/8). BPS dalam laporannya menyatakan ekonomi Indonesia triwulan II-2025 tumbuh 5,12 persen 

secara tahunan atau year on year (yoy) ditopang terutama oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, mengatakan konsumsi rumah tangga menyumbang kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yakni sebesar 54,25 persen. Konsumsi juga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan andil sebesar 2,64 persen dari total 5,12 persen pertumbuhan ekonomi nasional.

“Konsumsi rumah tangga terus tumbuh seiring meningkatnya belanja kebutuhan primer dan mobilitas masyarakat. Kebutuhan bahan makanan dan makanan jadi meningkat karena aktivitas pariwisata selama periode libur hari besar keagamaan dan libur sekolah,” kata Edy.

Sementara itu, investasi atau PMTB menyumbang pertumbuhan sebesar 2,06 persen dengan kontribusi terhadap PDB mencapai 27,83 persen. Pertumbuhan PMTB tersebut tercatat 6,99 persen yoy, didukung oleh aktivitas investasi yang masih menggeliat, terutama di sektor konstruksi. Sedangkan, konsumsi pemerintah tercatat menyumbang 0,22 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Menanggapi laporan BPS itu, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda, mengatakan pengumuman BPS itu penuh kejanggalan dan tanda tanya publik. “Saya tidak percaya dengan data yang disampaikan mewakili kondisi ekonomi yang sebenarnya,”tegas Huda.

Ada tiga poin kejanggalan tersebut kata Huda. Pertama, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 lebih tinggi dibandingkan triwulan yang ada moment ramadhan-lebaran terasa janggal. Hal itu dikarenakan tidak seperti tahun sebelumnya dimana pertumbuhan triwulanan paling tinggi merupakan triwulan dengan ada momen ramadhan-lebaran.

“Triwulan I- 2025 saja hanya tumbuh 4,87 persen, jadi cukup janggal ketika pertumbuhan triwulan II mencapai 5,12 persen,”ungkapnya.

Kedua, pertumbuhan industri pengolahan yang mencapai 5,68 persen (jauh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan 1 2025) tidak sejalan dengan PMI manufaktur Indonesia yang di bawah 50 poin dalam waktu April-Juni 2025.

“Artinya, perusahaan tidak melakukan ekspansi (tambahan produksi) secara signifikan. Selain itu, kondisi industri manufaktur juga tengah memburuk, dengan salah satu leading indikatornya adalah jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang meningkat 32 persen (yoy) selama periode Januari-Juni,”papar Huda.

Ketiga, konsumsi rumah tangga (RT) hanya tumbuh 4,96 persen. Dengan kontribusi mencapai 50 persen dari PDB, nampak janggal karena pertumbuhan konsumsi RT triwulan 1 2025 hanya 4,95 persen tapi pertumbuhan ekonomi di angka 4,87 persen.

“Tidak ada momen yang membuat peningkatan konsumsi rumah tangga meningkat tajam. Indeks keyakinan konsumen (IKK) juga melemah dari Maret 2025 sebesar 121,1 turun menjadi 117,8 (Juni 2025). Apabila dikaitkan dengan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang meningkat 6,99 persen tetapi Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur di bawah batas ekspansi,”tegas Huda.

Keempat, ketidaksinkronan antara data pertumbuhan ekonomi dengan leading indikator, membuat saya pribadi tidak percaya terhadap data yang dirilis oleh BPS.

“BPS harusnya menjadi badan yang mengedepankan informasi data yang akurat tanpa ada intervensi Pemerintah. BPS harus menjelaskan secara detail metodologi yang digunakan, termasuk indeks untuk menarik angka nilai tambah bruto sektoral dan juga pengeluaran,”tukasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Asosiasi Ojek Online: Aturan Bagi Hasil 92:8 Persen Beri Dampak Nyata Pengemudi Ojol
    Preview komentar:
    Bener bang,,, potongan 8% itu hanya omon omon ...
    Betul tuh bang banyak bacot,,Lebel aja 8% hasil ...
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...
Advertisement
injourney
Advertisement
bni-atasdetailmobile
Advertisement
astra2
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile

Tanda-tanda Menunjukkan Perlambatan Ekonomi Tiongkok akan Berlanjut

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Tanda-tanda Menunjukkan Per...
Daerah
Anggota Paskibraka Situbond...
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Masih Tertahan, Tunggu Aturan Menkeu

Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Masih Tertahan, Tunggu Aturan Menkeu

17 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.