Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Benarkah Pendidikan Jurnalisme Sudah Tak Relevan dengan Perkembangan Media Digital?

📅 Selasa, 29 Jul 2025, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Bentuk jurnalisme yang berubah menjadi sangat personal ini menunjukkan bagaimana emosi, informalitas, keintiman digital dapat meredefinisi serta mereduksi praktik maupun persepsi jurnalisme di era digital.

Ini mendorong setiap newsroom untuk memproduksi berita yang sensasional atau sarat emosi. Alih-alih menjadi watchdog dalam demokrasi, jurnalis tereduksi menjadi seorang influencer digital dalam ekosistem buruh yang rentan eksploitasi. Jurnalispun menjadi bagian dari precariat labor.

2. Tantangan profesi

Sebelum era internet, jurnalis dianggap sebagai satu-satunya sumber dan pembentuk informasi.

Setelah lahirnya internet dan media sosial, jurnalis kehilangan keistimewaan sebagai informan disaingi oleh kehadiran citizen journalism.

Demokratisasi media ini memunculkan profesi baru yaitu kreator konten yang sering dianggap sama dengan jurnalis. Bahkan, lowongan awak redaksi justru lebih banyak membutuhkan kreator konten atau video creator.

Jurnalis bukanlah kreator konten. Sebab, kreator konten tidak bekerja dengan mindset, konsep dasar, dan etika jurnalis yang mengandung aspek etis, skill dan kritis. Parameter content creator adalah engagement bukan kedalaman informasi.

Kreator konten mengutamakan viralitas. Sedangkan jurnalis seharusnya menghasilkan resonansi yang menggerakkan diskursus kritis.

Kreator konten peduli pada isi yang menghasilkan sentimen positif dan click. Sedangkan jurnalis tidak terlalu peduli pada click karena yang dikejar adalah kepentingan publik.

Kehadiran media sosial yang berbasis visual juga menyeret jurnalis berorientasi pada performa. Siaran live melalui media sosial membuat wartawan harus mampu menjadi presenter handal, kreator konten yang menarik sekaligus legitimasi sebagai wartawan agar informasi yang disampaikan kredibel.

Media “diharuskan” untuk lebih memilih byline daripada menampilkan pembaca berita. Karena terus menonjolkan kemunculan performa fisik, mereka sudah seperti selebritas. Konsekuensinya, jurnalis harus berpenampilan menarik, memiliki fans, dan kehadirannya mengundang perhatian publik.  

3. Tantangan produksi

Hadirnya teknologi yang menghasilkan analisis big data, AI serta berbagai fasilitas serupa mempermudah kerja jurnalis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Olahraga
Kalah Telak di Piala AFF: T...
Olahraga
Daftar 18 Pemain Voli Putra...

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.