Pil Pembunuh Nyamuk Dapat Turunkan Malaria hingga 26 Persen
📅 Senin, 28 Jul 2025, 07:37 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: AFP/ISSOUF SANOGO
SEBUAH studi inovatif telah mengungkapkan bahwa pemberian ivermectin secara massal obat yang dulu dikenal untuk mengobati kebutaan sungai (Onchocerciasis) dan kudis dapat secara signifikan mengurangi penularan malaria bila digunakan bersamaan dengan kelambu.
Onchocerciasis, juga dikenal sebagai river blindness adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing parasit Onchocerca volvulus. Gejalanya antara lain gatal-gatal parah, benjolan di bawah kulit, dan kebutaan.
Pemberian ivermectin kepada seluruh populasi secara signifikan mengurangi penularan malaria, menawarkan harapan baru dalam memerangi penyakit ini. Uji coba proyek Broad One Health Endectocide-based Malaria Intervention in Africa (BOHEMIA), studi terbesar tentang ivermectin untuk malaria hingga saat ini, menunjukkan penurunan infeksi malaria baru sebesar 26 persen di atas kelambu (bed nets) yang ada, memberikan bukti kuat tentang potensi ivermectin sebagai alat pelengkap dalam pengendalian malaria.
Bed nets adalah tindakan pencegahan malaria yang paling menonjol untuk penerapan dalam skala besar di daerah endemis tinggi. Dua jenis kelambu anti-nyamuk baru telah terbukti mampu mengurangi kasus malaria hingga setengahnya, meningkatkan harapan untuk memerangi penyakit ini, yang semakin resisten terhadap pengobatan dan upaya pencegahan.
Hasil proyek ini, yang dikoordinasikan oleh Institut Kesehatan Global Barcelona (ISGlobal) sebuah lembaga yang didukung oleh Yayasan “la Caixa,” bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Manhiça (CISM) dan Program Penelitian KEMRI-Wellcome Trust, telah dipublikasikan di The New England Journal of Medicine.
Sebaiknya Anda baca juga:
Malaria masih menjadi tantangan kesehatan global, dengan 263 juta kasus dan 597.000 kematian dilaporkan pada tahun 2023. Metode pengendalian vektor yang ada saat ini, seperti kelambu berinsektisida tahan lama (long-lasting insecticidal nets/LLIN) dan penyemprotan residu dalam ruangan (indoor residual spraying/IRS), menjadi kurang efektif.
Kedua motode dikenal resistensi insektisida dan adaptasi perilaku nyamuk untuk menggigit di luar ruangan dan saat senja atau fajar, ketika masyarakat tidak terlindungi oleh langkah-langkah tersebut. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan solusi inovatif untuk memerangi malaria.
Ivermectin Untuk Malaria
Sebaiknya Anda baca juga:
Ivermectin, obat yang secara tradisional digunakan untuk mengobati penyakit tropis terabaikan seperti onchocerciasis, penyebab kebutaan sungai, dan filariasis limfatik, penyebab kaki gajah, telah terbukti mengurangi penularan malaria dengan membunuh nyamuk yang menghisap darah individu yang diobati.
Mengingat meningkatnya resistensi terhadap insektisida konvensional, ivermectin dapat menawarkan pendekatan baru yang efektif untuk mengatasi penularan malaria, terutama di wilayah-wilayah di mana metode tradisional menjadi kurang efektif.
Proyek BOHEMIA yang didanai Unitaid melakukan dua uji coba Mass Drug Administration (MDA) di wilayah-wilayah dengan beban malaria tinggi: Kabupaten Kwale (Kenya) dan distrik Mopeia (Mozambik).
Uji coba tersebut menilai keamanan dan efikasi dosis tunggal ivermectin (400 mcg/kg) bulanan yang diberikan selama tiga bulan berturut-turut pada awal musim hujan dalam mengurangi penularan malaria. Di Kenya, intervensi ini menargetkan anak-anak berusia 5-15 tahun, sementara di Mozambik, intervensi ini berfokus pada anak-anak balita.
Penurunan Kasus
Di Kabupaten Kwale, Kenya, anak-anak yang menerima ivermectin mengalami penurunan insiden infeksi malaria sebesar 26 persen dibandingkan dengan mereka yang menerima albendazole, obat kontrol yang digunakan dalam penelitian ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!