Mengenal Jejak Karbon Digital di Balik Layar Gadget Kita
📅 Sabtu, 19 Jul 2025, 14:32 WIB | Oleh: Tim Penulis3. Pusat data
Semua data-data aktivitas digital kita pada akhirnya bermuara, diproses, dan diolah di pusat data. Server dan perangkat penyimpanan di dalamnya memerlukan energi besar karena harus beroperasi terus-menerus tanpa istirahat.
Tak hanya untuk menghidupkan mesin, pusat data butuh energi yang tidak kalah besar juga untuk sistem pendinginnya. Porsinya bahkan tembus hingga 40% dari total konsumsi listrik tahunan sebuah pusat data.
Dengan semakin canggih teknologi dan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang kian meluas, proyeksi ke depan makin mencemaskan. International Energy Agency (IEA) memperkirakan kebutuhan listrik pusat data global bisa melonjak dua kali lipat, yang pada 2022 mencapai sekitar 460 TWh, dan bisa melonjak hingga lebih dari 1.000 TWh pada 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
Indonesia, salah satu negara konsumsi data terbesar dunia
Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat ada 221,5 juta pengguna internet di Indonesia. 34,4% di antaranya merupakan Gen Z sebagai kelompok pengguna terbesar.
Aktivitas daring Gen Z sangat boros data. Pengguna internet Indonesia tercatat menjadi yang terlama di dunia menghabiskan waktu di TikTok dengan (rata-rata 38 jam 26 menit per bulan). Indonesia juga menempati peringkat kedua global dalam hal bermain video games (95,3% dari pengguna internet). Bahkan, 42,2% di antaranya menghabiskan lebih dari empat jam setiap hari.
Parahnya lagi, sumber pembangkit listrik konsumsi digital yang tinggi ini masih disokong oleh jaringan listrik berbasis batu bara. Pada 2023, bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia baru mencapai 13,09%, masih jauh dari target 23% pada 2025. Konsumsi data yang tinggi ditopang energi kotor, tentu akan menghasilkan jejak karbon digital per kapita yang tinggi pula.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menuju jejak digital hijau: Saatnya menjadi generasi sadar digital
Jalan menuju masa depan digital yang berkelanjutan membutuhkan usaha dan kolaborasi bersama semua pihak terkait.
Inisiatif level individu
Kita bisa mulai dari langkah kecil, seperti:
- Kurangi aktivitas digital yang tidak perlu.
- Lakukan digital decluttering, seperti membersihkan file dan data yang tak lagi dibutuhkan dan menghapus email lama—satu email dengan lampiran bisa menghasilkan 50 gram CO2e)
- Gunakan dan rawat perangkat lebih lama untuk mengurangi “karbon tersembunyi” dari proses produksinya.
Inisiatif level perusahaan
Inovasi hijau menjadi sangat penting. Salah satu langkah krusial adalah membangun pusat data yang menggunakan energi terbarukan. Di Indonesia, beberapa perusahaan sudah bergerak ke arah ini, seperti DCI Indonesia yang meluncurkan pusat data bertenaga panel surya.
Inisiatif level pemerintah
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!