Untung RI Belum Beli, Mesir Ungkap Kelemahan Peperangan Elektronik Jet Tempur Su-35 Rusia
📅 Minggu, 13 Jul 2025, 17:01 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SAngkatan Udara Mesir pada tahun 2025: Menentukan arah baru
Setelah kesepakatan Su-35 berakhir, Mesir sedang menjajaki opsi untuk memperkuat angkatan udaranya, yang sejalan dengan tujuan strategis dan realitas regional. Rafale tetap menjadi tulang punggung armada Kairo , menawarkan kinerja yang telah teruji dalam peran udara-ke-udara dan udara-ke-darat.
Radar AESA RBE2-nya dapat melacak beberapa target secara bersamaan, dan kompatibilitasnya dengan amunisi canggih seperti rudal jelajah SCALP meningkatkan kemampuan serangan Mesir. Perluasan armada ini, sebagaimana dilaporkan oleh Aviation Week, kemungkinan besar merupakan prioritas, mengingat keandalan jet tersebut dan infrastruktur Mesir yang sudah ada untuk pemeliharaan dan pelatihan.
J-10C Tiongkok telah muncul sebagai pesaing kuat, terutama setelah partisipasi Mesir dalam latihan militer "Eagles of Civilization 2025" dengan Tiongkok, yang memamerkan kemampuan jet tersebut. Berbeda dengan Su-35, J-10C dilengkapi radar AESA dan biaya operasional yang lebih rendah, menjadikannya pilihan yang menarik bagi Mesir yang memperhatikan biaya. Laporan dari Breaking Defense menunjukkan peningkatan kerja sama militer antara Kairo dan Beijing, termasuk latihan angkatan laut gabungan dan program pelatihan perwira, yang menandakan potensi pergeseran ke platform Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sistem nirawak juga menjadi perhatian Mesir. Bayraktar TB2 Turki, yang banyak digunakan dalam konflik regional, menawarkan kemampuan serangan presisi berbiaya rendah, sementara drone Tiongkok seperti Wing Loong II menyediakan opsi pengawasan dan serangan canggih. Sistem ini sejalan dengan kebutuhan Mesir akan solusi yang fleksibel dan hemat biaya untuk melawan ancaman asimetris, seperti pemberontakan di Sinai atau tantangan keamanan maritim di Laut Merah.
Pengaruh Rusia yang memudar di pasar senjata
Keputusan Mesir untuk menarik diri dari kesepakatan Su-35 merupakan pukulan bagi industri pertahanan Rusia, yang sudah terguncang akibat kemunduran di pasar lain. Indonesia dan India juga telah menarik diri dari pembelian Su-35, dengan alasan keterbatasan teknis dan risiko geopolitik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perang di Ukraina semakin membebani kemampuan Rusia untuk memproduksi dan mengirimkan sistem canggih, dengan lini produksi terganggu oleh sanksi dan kerugian di medan perang. Postingan di X dari Juni 2025 mencatat bahwa kegagalan Rusia mengirimkan Su-35 ke Iran sesuai jadwal telah menimbulkan keraguan tentang keandalan Moskow sebagai pemasok.
Pengalihan Su-35 Mesir ke Iran, yang dilaporkan oleh India Today, menggarisbawahi peralihan Rusia ke pasar yang kurang tradisional. Namun, kesulitan Iran sendiri melawan F-35 Israel dalam kampanye udara Juni 2025, sebagaimana diliput oleh Newsweek, menyoroti kerentanan Su-35 terhadap sistem canggih Barat. Dorongan Rusia untuk mempromosikan pesawat tempur siluman Su-57-nya belum mendapatkan dukungan, dengan kurang dari selusin unit operasional pada tahun 2025.
Pergeseran keseimbangan di Timur Tengah
Penolakan Mesir terhadap Su-35 mencerminkan tren yang lebih luas yang membentuk kembali lanskap militer Timur Tengah. Kebangkitan Tiongkok sebagai pemasok senjata, yang dicontohkan oleh J-10C dan J-35, menantang dominasi platform Barat dan Rusia.
Keberhasilan Pakistan yang dilaporkan dengan J-10C melawan Rafale India telah memicu minat di seluruh kawasan, dengan Mesir, UEA, dan negara-negara lain menjajaki opsi dari Tiongkok, sebagaimana dicatat oleh Newsweek. Sementara itu, Prancis terus memperkuat posisinya sebagai pemasok utama Mesir, memanfaatkan rekam jejak Rafale yang telah terbukti.
Keputusan ini juga menyoroti pengaruh Amerika Serikat yang masih kuat di kawasan tersebut. Dengan memanfaatkan CAATSA, Washington telah berhasil menjauhkan Mesir dari sistem Rusia, sehingga mempertahankan pengaruh strategisnya. Namun, meningkatnya daya tarik platform Tiongkok menimbulkan tantangan baru, seiring upaya Beijing untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Bagi Mesir, menyeimbangkan hubungan ini sambil mengatasi ancaman regional—seperti angkatan udara Israel yang dilengkapi F-35 atau strategi Turki yang berpusat pada drone—akan menjadi hal yang krusial.
Kegagalan Su-35 dalam memenuhi kebutuhan Mesir menimbulkan pertanyaan tentang masa depan ekspor senjata Rusia dan kelayakan platformnya yang menua di tengah lanskap teknologi yang berkembang pesat. Seiring Kairo memetakan langkahnya ke depan, akankah ia mengandalkan sistem Barat seperti Rafale, mengadopsi alternatif hemat biaya dari Tiongkok, atau mengejar pendekatan hibrida? Jawabannya dapat membentuk kembali dinamika kekuatan kawasan di tahun-tahun mendatang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!