Untung RI Belum Beli, Mesir Ungkap Kelemahan Peperangan Elektronik Jet Tempur Su-35 Rusia
📅 Minggu, 13 Jul 2025, 17:01 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSelain itu, konsumsi bahan bakar mesin yang tinggi membatasi jangkauan dan kapasitas muatan Su-35 dibandingkan dengan desain Barat yang lebih efisien, seperti mesin General Electric F110 yang digunakan pada armada F-16 Mesir.
Ketergantungan pada AWACS: Sebuah Ketidakselarasan Taktis
Angkatan Udara Mesir beroperasi berdasarkan doktrin yang menekankan independensi operasional, suatu keharusan mengingat ancaman kompleks di Timur Tengah, mulai dari pemberontakan di Sinai hingga potensi konflik di sepanjang perbatasannya. Ketergantungan Su-35 pada panduan eksternal dari sistem peringatan dan kendali udara airborne warning and control systems [AWACS] bertentangan dengan pendekatan ini.
Berbeda dengan Rafale, yang mengintegrasikan sensor canggih seperti radar AESA Thales RBE2 dan rangkaian peperangan elektronik SPECTRA untuk operasi otonom, Su-35 membutuhkan tautan data yang konstan ke AWACS untuk kinerja optimal dalam misi-misi kompleks.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketergantungan ini, menurut pejabat Mesir tersebut, melemahkan efektivitas jet tempur tersebut dalam skenario di mana dukungan AWACS mungkin tidak tersedia atau terganggu.
Pengalaman Mesir dalam operasi regional, seperti serangan udara terhadap kelompok militan di Libya, menggarisbawahi perlunya platform yang mandiri. Rafale, yang diakuisisi Mesir pada tahun 2015 dan 2021, telah membuktikan kehandalannya dalam misi-misi tersebut, memanfaatkan rangkaian sensor terintegrasinya untuk melakukan serangan presisi tanpa dukungan eksternal. Keterbatasan Su-35 dalam hal ini membuatnya kurang sesuai dengan kebutuhan taktis Kairo, terutama di kawasan yang membutuhkan respons cepat dan independen.
Tekanan geopolitik dan kegagalan kesepakatan
Sebaiknya Anda baca juga:
Pembatalan kesepakatan Su-35 bukan semata-mata keputusan teknis. Amerika Serikat, yang khawatir akan pengaruh Rusia yang semakin besar di Timur Tengah, memberikan tekanan signifikan melalui CAATSA, undang-undang tahun 2017 yang bertujuan untuk mencegah negara-negara membeli peralatan militer Rusia.
Tekanan serupa menyebabkan Indonesia membatalkan kesepakatan Su-35 pada tahun 2018, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters. Mesir, penerima utama bantuan militer AS, menghadapi risiko sanksi dan hubungan yang tegang dengan Washington, sekutu utama yang memberikan dukungan lebih dari $1 miliar setiap tahunnya.
Pada tahun 2020, Kairo diam-diam menunda kesepakatan tersebut, dan Rusia mengalihkan Su-35 ke Iran, sebuah langkah yang dikonfirmasi oleh postingan di X dan dilaporkan oleh The Moscow Times. Namun, transfer ini terhambat oleh kapasitas produksi Rusia yang terbatas akibat perang yang sedang berlangsung di Ukraina, yang menyebabkan Moskow kehilangan lebih dari 40 persen armada Su-35-nya, menurut sumber-sumber Ukraina.
Penundaan pengiriman jet-jet ini ke Iran, yang awalnya diperkirakan akan tiba pada Maret 2025, menyoroti tantangan yang lebih luas yang dihadapi industri pertahanan Rusia, sebuah poin yang kemungkinan menjadi faktor dalam keputusan Mesir untuk mencari sumber daya lain.
Peralihan Mesir dari Rusia juga mencerminkan hubungan yang semakin erat dengan Prancis dan, yang semakin meningkat, Tiongkok. Prancis, pemasok lama, telah memasok Mesir dengan 54 jet Rafale, yang dilengkapi dengan sistem canggih yang mengungguli Su-35 dalam hal fleksibilitas dan kemampuan bertahan hidup.
Sementara itu, meningkatnya kehadiran Tiongkok di kawasan tersebut, yang dibuktikan dengan kehadiran pesawat tempur J-10C , telah menarik perhatian Kairo. J-10C, jet generasi 4,5 dengan radar AESA dan rudal PL-15, telah mendapatkan perhatian setelah Pakistan dilaporkan berhasil melawan Rafale India dalam pertempuran pada Mei 2025.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!