Untung RI Belum Beli, Mesir Ungkap Kelemahan Peperangan Elektronik Jet Tempur Su-35 Rusia
📅 Minggu, 13 Jul 2025, 17:01 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
KAIRO - Setelah evaluasi teknis menyeluruh menemukan kelemagan kritis dalam sistem, dalam pengungkapan yang signifikan, seorang pejabat militer senior Mesir baru-baru ini mengungkapkan bahwa Kairo membatalkan kesepakatannya tahun 2018 untuk membeli jet tempur Su-35 Rusia.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia pada 2018 juga telah menandatanganani kontrak senilai 1,1 miliar dolar AS untuk pengiriman 11 jet tempur Su-35 baru. Dilansir oleh Airspace Review, namun pada Juli 2019, mantan Duta Besar Indonesia untuk Rusia Mohamad Wahid Supriyadi mengatakan bahwa terjadi penundaan implementasi kontrak tersebut disebabkan rumitnya skema perdagangan yang melibatkan instansi pemerintah maupun perusahaan.
RI juga diduga tidak ingin mengambil terkena risiko Sanksi CAATSA Countering America's Adversaries Through Sanctions Act, sebuah undang-undang Amerika Serikat yang dibuat untuk memberikan sanksi kepada negara-negara yang melakukan transaksi signifikan dengan sektor pertahanan atau intelijen Rusia, Iran, dan Korea Utara.
Dilansir dari Bulgarian MIlitary, keputusan Mesir tersebut, yang awalnya didorong oleh tekanan geopolitik dari Amerika Serikat, diperkuat oleh kekhawatiran atas radar yang sudah ketinggalan zaman, perangkat peperangan elektronik yang rentan, dan mesin yang tidak efisien, dianggap gagal memenuhi kebutuhan angkatan udara Mesir dalam mengatasi ancaman regional modern.
Pengumuman yang dibuat pada awal Juli 2025 itu menyoroti kesepakatan yang telah gagal bertahun-tahun lalu dan menggarisbawahi peralihan Mesir ke platform yang lebih maju dan andal, sehingga memunculkan pertanyaan tentang posisi Rusia di pasar senjata global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Su-35, pesawat tempur multiperan generasi 4,5 yang dikembangkan oleh Biro Desain Sukhoi Rusia, pernah dipuji sebagai pilar ekspor militer Moskow. Kontrak Mesir senilai $2 miliar untuk 24 jet, yang ditandatangani pada tahun 2018, dipandang sebagai kemenangan besar bagi Rusia di Timur Tengah.
Namun, tekanan AS melalui CAATSA dan kekurangan teknis menyebabkan Kairo membatalkan kesepakatan tersebut pada tahun 2020, dan pesawat pesanan Mesir tersebut kemudian dialihkan oleh Moskow untuk Iran. Pengungkapan terbaru, yang dilaporkan oleh Defense News, menyoroti kelemahan spesifik yang merugikan Su-35, memberikan gambaran langka tentang perhitungan strategis Mesir dan implikasinya terhadap lanskap militer kawasan.
Kekurangan teknis Su-35: Tinjauan lebih dekat
Sebaiknya Anda baca juga:
Su-35, yang dikenal sebagai Flanker-E dalam istilah NATO, adalah pesawat tempur bermesin ganda dengan kemampuan manuver super yang dirancang untuk bersaing dengan platform Barat seperti F-15 dan Rafale. Ditenagai oleh dua mesin perang psikologis Saturn AL, jet ini memiliki rasio dorong-berat sebesar 1,1, yang memungkinkan kemampuan dogfighting yang lincah.
Radar Irbis-E-nya, sebuah passive electronically scanned array [PESA], dapat mendeteksi target pada jarak hingga 400 kilometer, dan pesawat ini dapat membawa beragam muatan, termasuk rudal udara-ke-udara R-77 dan rudal anti-kapal Kh-31. Meskipun memiliki keunggulan ini, evaluasi Mesir menemukan bahwa Su-35 masih memiliki kekurangan di area-area kritis yang penting untuk pertempuran udara modern.
Sistem peperangan elektronik, yang dirancang untuk melindungi jet dari ancaman radar dan rudal musuh, dianggap tidak memadai. Menurut pejabat Mesir tersebut, sistem tersebut kesulitan melawan teknik pengacauan canggih yang lazim di medan perang saat ini, di mana penanggulangan elektronik semakin canggih. Kerentanan ini dapat membuat Su-35 rentan terhadap pertahanan musuh, terutama di lingkungan yang diperebutkan seperti di Timur Tengah, di mana musuh menggunakan peralatan peperangan elektronik mutakhir.
Radar Irbis-E PESA, meskipun canggih pada masanya, juga menjadi perhatian. Tidak seperti radar AESA (Active Electronically Scanned Array) yang digunakan pada pesawat tempur Barat seperti F-35 atau jet Rafale milik Mesir, sistem PESA mengandalkan teknologi lama yang menggunakan komponen galium arsenida.
Sistem ini kurang efisien dan lebih rentan terhadap gangguan dibandingkan sistem AESA berbasis galium nitrida, yang menawarkan diskriminasi target yang unggul dan ketahanan terhadap interferensi elektronik. Angkatan Udara Mesir, yang memprioritaskan kemampuan sensor canggih, menganggap radar Su-35 sudah ketinggalan zaman untuk tuntutan peperangan modern, di mana kewaspadaan situasional sangat penting.
Mesin jet tersebut juga menimbulkan tanda bahaya. Mesin AL-41F1S, meskipun bertenaga, menghasilkan tanda termal dan akustik yang tinggi, membuat Su-35 lebih mudah dideteksi oleh sistem inframerah dan radar. Hal ini mengurangi kemampuan bertahannya dalam operasi yang berfokus pada siluman, yang semakin menjadi prioritas di wilayah yang menghadapi ancaman canggih seperti F-35I Adir milik Israel atau drone Bayraktar milik Turki.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!