Kenduri Sko, Merawat Adat Tradisi Suku Kerinci
📅 Minggu, 13 Jul 2025, 21:34 WIB | Oleh: Deri Henriawan
Doc: Kemendikbudristek
KERINCI - Bendera karamentang telah dipasang sebagai pemberitahuan bahwa upacara adat Kenduri Sko tengah berlangsung.
Bendera karangmentang memiliki lima warna sebagai simbol lima suku yang terhimpun di dalamnya. Bendera dipasang tinggi menjulang di setiap sudut strategis, khususnya sekitar Pasar Semurup Kerinci Jambi.
Sore itu di penghujung Juni 2025 aktivitas ekonomi dan kegiatan sosial di tiga desa di Koto Baru, Air Tenang dan Sawahan Jaya seperti terhenti sejenak. Masyarakatnya sedang mengikuti upacara adat mengasap negeri, salah satu rangkaian kenduri Sko.
Halaman di sekitar rumah Depati Simpan Negeri (Pemangku Adat) terasa beda dari biasanya. Dari kejauhan bau daun sitawa dan peladang serta kelegitan aroma kemenyan terasa menusuk hidung.
Para Ninik Mamak (Tokoh Adat, red) dan pemangku adat berkumpul di rumah pesusun negeri, mendengar dan menerima titah dari depati untuk mengelilingi negeri (kampung) membawa doa-doa kebaikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mereka diiringi asap kemenyan dan cembung --sebuah mangkok putih peninggalan leluhur-- yang bisa menimbulkan suara dengungan saat digosok menggunakan telapak tangan hulu balang pembawanya.
Sepanjang jalan mengitari kampung, peserta melantunkan pujian kebaikan sembari memercikkan air ramuan dari jenis daun sitawa, sidingin, peladang hitam dan putih serta doa ke setiap halaman rumah diiringi pukulan lembut alat kebesaran seperti kempul (gong kecil).
Di titik sudut kampung, perwakilan ninik mamak melantunkan adzan. Lantunan di tempat terbuka menghadap ke barat, setelahnya ditutup dengan doa yang memiliki makna penyampaian rasa syukur dan permintaan agar negeri yang didiami tetap lestari serta terhindar dari marabahaya.
Begitu seterusnya hingga empat sisi sudut negeri berkumandang adzan dan doa. Prosesi ini digelar hingga mendekati senja. Ritual mengasap negeri dilakukan selama tiga hari berturut-turut.
Malam baru berlalu, perlahan Ninik Mamak dan sejumlah panitia kenduri adat berdatangan ke rumah pesusun negeri.
Tua, muda, laki-laki dan perempuan berkumpul mendengar petuah adat dari depati agar pelaksanaan puncak kenduri diberkati.
Kemudian, mereka memotong jeruk limau semua jenis jeruk purut, kunci, kapas dan oadang hasil mupu atau mengumpulkan dari rumah-rumah warga ke rumah pesusun negeri.
Setelah proses pemotongan selesai, mereka masih berkumpul mengikuti rangkaian ritual berlanjut upacara adat 'Asyeik', tarian adat sebagai cara berkomunikasi dengan para leluhur untuk meminta kebaikan dan perlindungan untuk warga Tigo Huhah Semurup.
Tarian ini sarat akan hal magis, namun memiliki filosofi yang dalam serta makna sejarah perjalanan panjang masyarakat suku Kerinci.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!