Ci Pat: Sosok Perempuan Inspiratif di Balik Gaya Hidup Bike to Work
📅 Kamis, 03 Jul 2025, 10:35 WIB | Oleh: Tim PenulisData dari Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa pengeluaran transportasi rumah tangga di kota besar seperti Jakarta bisa mencapai 15-20 persen dari total belanja bulanan. Sementara itu, bersepeda hanya membutuhkan biaya awal untuk membeli sepeda dan perlengkapannya. Setelah itu, perawatannya relatif murah dan sepeda bisa digunakan selama bertahun-tahun.
Ketika ditanya soal persiapan bike to work bagi pemula, jawabannya hanyalah “mulai aja dulu” sebab menurutnya tantangan terbesar yaitu melawan rasa malas. Apalagi, setelah sering kali menikmati kemudahan-kemudahan yang ditawarkan selama menjalani kehidupan di kota besar seperti Jakarta, termasuk kehadiran ojek daring yang membuatnya serba lebih mudah dan cukup ekonomis di kantong.
“Sebenarnya tidak perlu membawa perlengkapan khusus selama bike to work, karena biasanya kita bisa mengakalinya, dari mulai membawa handuk, membawa baju ganti, hingga jas hujan, itu nggak perlu dipikirin, mulai aja dulu,” katanya lugas.
Bahkan, saat di hari libur pun, justru menjadi momen untuk Ci Pat menambah jam bersepeda, menjelajah rute-rute baru, seperti Sentul dan Puncak yang menjadi favoritnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau libur biasanya saya nggak mau diam, saya me time dengan melatih endurance ke Puncak, bisa juga lanjut ke Cianjur, lalu nanjak lagi,” kata pesepeda jarak jauh itu.
Menariknya, gaya hidup bersepeda tidak hanya dilakukan Ci Pat di Jakarta. Di sejumlah daerah lain, terutama saat musim liburan sekolah tiba, anak-anak pun ramai memanfaatkan waktu luang dengan bermain sepeda.
Di Serang, Banten, misalnya, permainan sepeda menjadi kegiatan yang rutin dilakukan hampir setiap hari, terutama saat anak-anak mengawali hari di pagi ataupun saat bermain sore hari.
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satunya Chevindio (7) yang menjadi contoh bagaimana budaya bersepeda bisa ditanamkan sejak dini. Setiap hari, ia ke sekolah naik sepeda. Baginya, aktivitas tersebut bukan sekadar transportasi, tetapi juga menjadi sarana bermain dan bersosialisasi dengan teman. Dio dan teman-temannya sering berkelompok bak konvoi kecil mengelilingi kompleks.
Bocah yang kini menduduki bangku sekolah dasar kelas dua itu juga kerap kali balapan ringan untuk sekadar menambah suasana senang saat bermain.
“Aku mulai belajar sepeda dari umur lima tahun. Awalnya roda empat, terus nyoba roda tiga, dan sekarang sudah bisa roda dua,” tutur siswa SD ElFatih, Kota Serang itu.
Durasi bermain sepeda pun tidak sebentar. Dio bersama Vay(4) adiknya dan kelima temannya, kerap kali menghabiskan waktu 1 hingga 1,5 jam setiap hari untuk mengelilingi kompleks perumahan sejauh satu kilometer.
“Aku senang sekali kalau main sepeda bersama teman-teman, karena bisa sambil ngobrol dan tertawa bercanda, juga sambil balapan,” sambung Vay.
Bagi mereka, waktu bukanlah ukuran, tetapi kebahagiaan di masa kecil yang dapat mempererat tali persaudaraan antarkerabat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!