Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Keraton Sambaliung, Jejak Kemegahan Kesultanan di Berau

📅 Rabu, 25 Jun 2025, 23:45 WIB | Oleh:

Informasi mengenai silsilah raja serta foto-foto para sultan terdahulu terpampang rapi di dinding ruangan.

Di sebelah kanan ruang utama terdapat ruang singgasana yang berisi kursi singgasana raja dan lemari perlengkapan. Baik kursi di ruang tengah maupun singgasana tidak dapat diduduki sembarangan oleh pengujung.

Beberapa benda bersejarah dipamerkan pada berbagai ruangan kamar di keraton ini, seperti replika pakaian dan pernak-pernik keluarga kerajaan, koleksi senjata raja, alat musik tradisional, hingga replika tempat tidur keluarga kerajaan.

Koleksi yang menarik banyak perhatian antara lain sebuah kain besar yang terbuat dari serat nanas berumur 120 tahun, berasal dari India yang digunakan sebagai pembalut luka.

Terdapat juga senjata pribadi Raja Sambaliung yakni sebuah pedang besar yang berasal dari China yang di bagian bilahnya terdapat tulisan menggunakan aksara China.

Lalu ada dua tugu prasasti terbuat dari kayu, yang satu bertuliskan aksara Arab-Melayu dan satu lagi ditulis dengan aksara asli suku Bugis. Kedua tugu ini berisi aturan dan tata krama yang harus dipatuhi saat berada di lingkungan keraton.

Aturan yang tertulis misalnya dilarang berselisih saat berada di wilayah istana, tidak diperkenankan tertawa saat memandang istana, dilarang duduk di jalanan depan istana, dan apabila seseorang melewati istana dan sultan berada di depan istana hendaknya orang tersebut duduk terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkahnya.

Salah satu isi aturan dalam tugu adalah tentang penghormatan perempuan yang bertuliskan:

"Jangan menutup atau memotong arah jalan perempuan di tengah jalan meskipun di pandanganmu adalah seorang budak. Kalian para lelaki menepilah sedikit, jika perlu turunlah dari jalanan apabila ada perempuan bersama dengan ibunya yang kamu lihat turun dari rumah (menuju jalanan) maka laki-laki berhenti dahulu dan jangan langsung memotong arah jalannya."

Mungkin terlihat seperti hal kecil yang sepele, tapi begitu luar biasa ketika di masa kerajaan yang umumnya perempuan hanya sebagai objek bahkan tidak diperhitungkan, Kerajaan Sambaliung justru sangat menghormati perempuan termasuk yang derajatnya rendah seperti budak.

Keraton sekaligus museum ini juga memiliki satu koleksi unik yakni awetan tubuh seekor buaya raksasa sepanjang tujuh meter yang dipajang dalam kotak kaca di bagian luar keraton.

Berdasarkan penuturan Inda, arwah buaya tersebut diyakini pernah merasuki tubuh manusia untuk menyampaikan protes.

"Intinya dia bertanya 'kenapa saya dibunuh?' dan katanya dia juga tidak suka dipajang," kata Inda.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.