Semen Hijau Indonesia Bisa Taklukkan Pasar ASEAN, Negara Tetangga Waspada!
📅 Sabtu, 21 Jun 2025, 09:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Arnas Padda
JAKARTA - Semen hijau secara signifikan mengurangi emisi karbon dioksida selama proses produksinya, berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim. Beberapa sumber bahkan menyebutkan pengurangan emisi hingga 40%.
Semen hijau seringkali memanfaatkan limbah industri sebagai bahan baku, mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke lingkungan.
Semen hijau memiliki sifat mekanik yang baik, seperti porositas rendah dan kekuatan tekan tinggi, yang berkontribusi pada ketahanan dan daya tahan bangunan.
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu produsen semen hijau di Asia Tenggara.
Research Associate Climate Policy Research Unit CSIS Indonesia, Via Azlia, dalam peluncuran Laporan Perdagangan dan Investasi Berkelanjutan Indonesia 2025 yang dirilis CSIS di Jakarta, Jumat (20/6), menjelaskan bahwa Indonesia adalah salah satu negara penghasil produksi semen terbesar di kawasan, dengan kapasitas lebih dari 100 juta ton per tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Potensi ini dapat dioptimalkan sebagai upaya dekarbonisasi industri nasional sekaligus membuka peluang besar di pasar global yang kian menuntut produk berkelanjutan.
Via menambahkan sektor semen dan pupuk, bersama besi dan baja, menyumbang hampir 82 persen dari total emisi sektor industri dan mengonsumsi hingga 85 persen batu bara.
Saat ini, PT Semen Indonesia telah menjadi pelopor dan produsen utama dalam produksi semen hijau di Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sebagai produsen regional utama, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pionir dalam pengembangan semen hijau (green cement) yang kompetitif, sekaligus mendorong transisi industri secara berkelanjutan dan inklusif,” demikian laporan CSIS.
“Untuk itu, pendekatan dan upaya seperti penggunaan bahan bakar alternatif, pengurangan penggunaan klinker97, peningkatan efisiensi energi, adopsi teknologi CCS, serta pengembangan label dan sertifikasi semen hijau untuk transparansi emisi produk menjadi relevan untuk Indonesia ke depan,” kata laporan tersebut.
Selain semen, industri pupuk juga mulai menunjukkan arah yang serupa. Laporan CSIS menyebutkan bahwa produksi green ammonia oleh PT Pupuk Indonesia adalah contoh konkret bahwa sektor ini memiliki potensi besar untuk mentransformasi sistem produksinya agar lebih berkelanjutan.
Indonesia merupakan salah satu negara produsen pupuk urea terbesar di Asia Tenggara, meskipun masih bergantung pada impor untuk jenis pupuk lainnya.
Laporan CSIS mengidentifikasi bahwa tantangan utama industri pupuk ke depan adalah menurunkan intensitas emisinya sejalan dengan meningkatnya tuntutan global akan produk-produk rendah karbon. Dalam konteks ini, green ammonia mulai diposisikan sebagai komoditas strategis dunia, tidak hanya sebagai pupuk yang ramah lingkungan, tetapi juga sebagai bahan bakar alternatif, terutama di sektor kelistrikan dan maritim.
Sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara di Uni Eropa telah memasukkan green ammonia dalam strategi dekarbonisasi energi mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!