Perlu Perubahan untuk Cegah Krisis Demografi
📅 Jumat, 20 Jun 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksistunting sudah seharusnya diatasi dengan berfokus pada pencegahan. Selain mengenai orientasi penanganan yang belum tepat, rendahnya pemahaman masyarakat terhadap persoalan stunting menjadi faktor lainnya yang menghambat agenda optimalisasi penanganan stunting.
Dalam periode inilah MBG hadir untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Itu faktor yang luar biasa menurut saya karena negara hadir. Harapannya, MBG ini akan menjadi salah satu solusi untuk menangani stunting.
Sudah sejauh mana Program Genting berjalan?
Per 28 April 2025 Program Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting) telah menjangkau sebanyak 141.382 anak asuh dengan 20.396 ribu orang tua asuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Program Genting ini telah diluncurkan oleh Kemendukbangga sejak 5 Desember 2025. Program tersebut merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi potensi yang ada di keluarga berisiko stunting, seperti dengan memberikan asupan gizi, program air bersih, dan tidak melakukan pernikahan dini.
Sejauh ini, beragam jenis bantuan telah diberikan oleh orang tua asuh kepada ratusan ribu anak asuh itu, antara lain bantuan nutrisi yang menyasar 115.335 anak, bantuan akses air bersih untuk 2.623 anak, bantuan edukasi pencegahan dan penanganan untuk 22.465 anak, serta 959 bantuan berupa jamban sehat dan rumah layak huni.
Dalam rangka memastikan Program Genting berjalan dengan baik pihaknya membentuk Tim Pengendali Genting. Per 28 April, tim tersebut telah terbentuk di 35 provinsi atau sebesar 92,11 persen dari total 38 provinsi di Tanah Air.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagaimana cara kementerian dalam menjawab tantangan bonus demografi?
Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) menjadi solusi untuk menjawab tantangan bonus demografi dengan meningkatkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan dan mencegah isu kerentanan keluarga.
Harapan saya (perusahaan) yang pekerjanya banyak perempuan dan punya anak semoga bisa tetap kerja. Mengapa? Ada yang karena gara-gara ini langsung keluar. Setelah menikah, setelah melahirkan dan punya anak, itu keluar (tidak bekerja). Itu mengurangi angka produktivitas.
Selain itu, soulis ini juga mampu meningkatkan TPAK perempuan menjadi 70 persen; Indeks Pembangunan Kualitas Keluarga mencapai 80 persen, serta penurunan angka stunting menjadi 5 persen pada tahun 2045.
Bagaimana kita mendapat berkah dari bonus demografi ini?
Bonus demografi bisa dituai dari pembangunan keluarga yang terukur karena itu pentingnya Grand Design Pembangunan Keluarga (GDPK).Penduduk harus dikelola agar tumbuh seimbang, didasarkan pada suatu GDPK yang dijadikan framework (kerangka kerja) dalam pembangunan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!