Tegas, Profesor ini Tekankan Bansos Tidak Membuat orang Miskin Menjadi Sejahtera
📅 Kamis, 12 Jun 2025, 12:26 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA-Upaya mengentas kemiskinan selama ini tidak menyentuh akar masalah. Sebab, yang dilakukan pendekatan yang hanya bersifat temporer seperti bagi bagi bansos (bantuan sosial). Terbukti dari laporan bank dunia terbaru, angka kemiskinan RI kini menembus 194 juta jiwa.
Profesor Ekonomi Bisnis Unika Atma Jaya, Rosdiana Sijabat menegaskan bahwa bansos memang tidak akan melakukan perubahan secara struktural terhadap masalah kemiskinan di Indonesia.
"Bansos itu memang penting, tetapi itu bukan melakukan perubahan secara struktural, secara komperehensif. Bansos itu hanya sekadar buffer atau jaring pengaman sosial, bukan mengubah keluarga yang tadinya miskin menjadi tidak miskin,"tandas Rosdiana di Jakarta, Kamis (12/6)
Karena itu dia berpandangan, pemerintah perlu melakukan pendekatan struktural dari sekadar bagi bagi bansos. Misalnya secara lokus geografis masalah kemiskinan kita itu seperti apa. Di perkotaan dan di pedesaan, katakanlah di pedesaan sebaiknya kebijakan kebijakan pemerintah itu fokus kepada kelompok kelompok masyarakat di pedesaan itu permasalahan utamanya seperti apa. Boleh juga memberikan bansos ke penduduk di pedesaan tetapi isu utama ialah menciptakan lapangan pekerjaan yang konsisten di pedesaan apa?
"Kalau di pedesaan adalah sektor pertanian, informal maka kelompok yang bekerja di situ benar benar tersentuh kebijakan yang pro terhadap kehidupan mereka, misalkan benar benar subsidi pupuk sampai, benar benar kebijakan kebijakan itu mengarah kepada pekerjaan atau mata pencaharian utama sehari hari masyarakat di pedesaan,"terang Rosdiana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal yang sama juga untuk perkotaan, saat ini misalnya kalau lihat kontribusi lapangan usaha ke produk domestik bruto (PDB), penyumbang terbesar itukan sudah beralih dari pertanian ke sektor manufaktur. "Artinya, kebijakan kebijakan ekonomi itu harus benar benar menyentuh kelompok pekerja sektor manufaktur, kalau tidak salah 44% lapangan pekerjaan itu dari sektor manufaktur, artinya kelompok kerja kita di wilayah perkotaan itu terkonsentrasi di industri manufaktur. Artinya kebijakan kebijakan yang benar benar mendorong daya beli pekerja sektor manufaktur itu yang harus benar benar dijaga. Bisa saja insentif fiskal, kemudian bagaimana upaya menciptakan daya beli khusus pekerja pekerja kita di sektor manufaktur ini,"beber Rosdiana.
Pendekatan yang seperti itu juga bisa dilakukan karena mungkin isu yang sebenarnya ialah kemiskinan itu terus terpelihara karena memang ada kondisi struktural yang membuat masyarakat kita itu sulit keluar dari garis kemiskinan. Kondisi struktural itu bisa saja masalah masalah sama sama yang lain itu tidak terputus, misalkan masalah layanan kesehatan yang kurang memadai, akses pendidikan terhadap masyarakat yang miskin itu tidak memadai, serta infrastruktur publik yang tidak bisa diakses oleh kelompok masyarakat kecil, padahal semuanya itu membuat peluang ekonomi bisa mandiri dalam memperoleh pendapatan yang sustain tidak ada.
"Jadi, sudah kalah bersaing sebelum bersaing dalam kompetisi ekonomi yang sebenarnya, karena resources mereka terbatas, sehingga ketika berkompetisi di pasar mereka akan kalah dengan pemilik atau orang yang sumber dayanya cukup, sehingga perlu intervensi di sana,"ucapnya lagi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Semuanya itu papar Rosdiana akan menjaga daya beli. Kalau daya beli masyarakat di pedesaan maupun perkotaan terjaga maka supply side atau sisi produksinya (income generating) akan jalan. Kalau itu jalan maka pendapatan akan berjalan, pada akhirnya akan membuat lapangan pekerjaan tersedia. Itu akan tarik menarik menerus sehingga bisa mengurangi jumlah penduduk kita yang miskin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!