Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Skor Keamanan Siber Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

📅 Rabu, 11 Jun 2025, 20:35 WIB | Oleh:
Skor Keamanan Siber Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara Doc: Palo Alto
Ket. Studi berjudul 2025 Cybersecurity Resilience in Mid-Market Organizations oleh Palo Alto Network.

JAKARTA – Perusahaan keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) Palo Alto Network merilis 2025 Cybersecurity Resilience in Mid-Market Organizations. Studi tolok ukur (benchmark) perdana yang ini memberi gambaran tentang bagaimana perusahaan-perusahaan menengah di seluruh Asia Pasifik dan Jepang mengembangkan kapabilitas keamanan siber mereka.

Selain itu, laporan ini juga mengungkapkan bagaimana organisasi tersebut meningkatkan investasi keamanan siber mereka dalam menghadapi ancaman yang terus meningkat dan percepatan transformasi digital.

Menurut studi tolak ukur 2025 ini, rata-rata skor indeks Indonesia adalah 20,65 dari 25, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan skor indeks tertinggi di Asia Tenggara, dengan rata-rata perusahaan-perusahaan menengah menggunakan 14,4 persen dari pendapatannya untuk anggaran siber. 


Meskipun perusahaan-perusahaan menengah di Asia-Pasifik dan Jepang membuat kemajuan nyata dalam memperkuat postur keamanan siber mereka, tantangan utama masih tetap ada. Banyak organisasi masih berada pada tahap awal mengoperasionalkan AI dalam alur kerja sistem keamanan mereka, dan kesenjangan masih terdapat di berbagai bidang seperti pemulihan insiden dan ketahanan siber.

Selain itu, kompleksitas pengelolaan berbagai tool dan sistem yang terfragmentasi terus menghambat efisiensi. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang lebih terpadu berbasis platform, dengan integrasi kapabilitas AI guna meningkatkan kinerja, menyederhanakan operasi, dan memperkuat perlindungan secara menyeluruh.


"Keamanan siber bukan lagi sekadar ranah IT, melainkan prioritas bisnis. Seiring dengan semakin canggihnya ancaman dan AI yang mengubah lanskap ancaman, studi benchmark kami mengungkap bahwa banyak perusahaan-perusahaan menengah masih mengejar ketertinggalan mereka," ujar Michelle Saw, Wakil Presiden, Ekosistem, Asia Pasifik dan Jepang di Palo Alto Networks melalui keterangan pada Rabu (11/6).

"Studi ini membantu perusahaan-perusahaan menengah memahami posisi mereka dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai hasil keamanan yang lebih kuat. Selain itu, laporan ini juga menyoroti pentingnya para mitra, yang kini harus mengembangkan penawaran mereka dengan fokus lebih dalam pada edukasi, integrasi, adopsi AI, dan keahlian teknis tingkat lanjut guna mendukung kebutuhan pelanggan dengan lebih baik," ungkapnya.



Temuan utama terkait Indonesia, diantaranya adalah, Indonesia memimpin Asia Tenggara dalam hal kesiapan keamanan siber. Skor benchmark-nya 20,65 dari 25. Angka ini mencerminkan kepercayaan diri yang kuat di antara perusahaan-perusahaan menengah dalam hal kemampuan keamanan siber. 

Tiga pendorong utama bisnis siber untuk perusahaan-perusahaan menengah di Indonesia adalah mendukung aktivitas transformasi digital, melindungi pelanggan, dan aktivitas terkait tata kelola, risiko, dan kepatuhan. 

Anggaran siber meningkat. Perusahaan-perusahaan menengah di Indonesia, Singapura, dan Malaysia diperkirakan akan berinvestasi lebih banyak lagi pada sektor keamanan siber. Di Indonesia sendiri, perusahaan-perusahaan menengah mengalokasikan rata-rata 14,4 persen dari pendapatan mereka untuk keamanan siber.

Investasi yang signifikan ini semakin menekankan peningkatan kesadaran Indonesia akan ancaman siber dan prioritas strategis yang diberikan untuk melindungi infrastruktur digital di sektor mid-market

Perlindungan data dan privasi, serta software keamanan, dan software jaringan. Ini adalah tiga area teratas di mana perusahaan-perusahaan menengah Indonesia berencana memprioritaskan anggaran keamanan siber mereka. Pengeluaran dalam kategori ini diperkirakan akan meningkat lebih dari 10 persen, yang mencerminkan upaya terfokus untuk memperkuat pertahanan inti di tengah lanskap ancaman.

Peran mitra menjadi semakin penting. Sebesar 85 persen perusahaan di Indonesia mengungkapkan mereka akan mengandalkan mitra untuk mendukung upaya keamanan siber dalam kurun waktu dua tahun ke depan, naik dari persentase saat ini di 60 persen. Angka ini sedikit lebih tinggi dari Asia Pasifik dan Jepang. Dalam dua tahun ke depan, permintaan akan mitra akan sangat dibutuhkan dalam manajemen ancaman dan kerentanan, pendidikan dan pelatihan, serta teknologi cloud dan teknologi baru.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

37 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.