Sebuah Seni dari Limbah Plastik, Aksi Jitu untuk Rawat Bumi
📅 Senin, 09 Jun 2025, 22:48 WIB | Oleh: OpikSampah plastik juga mencemari laut, mengancam ekosistem, dan masuk ke rantai makanan manusia dalam bentuk mikroplastik. Tantangan ini membutuhkan solusi kreatif dan keterlibatan banyak pihak.

Seniman Teguh Joko Dwiyono membawa lukisan dari limbah plastik pada galeri rumahan miliknya di Jakarta Timur, Jumat (27/9). ANTARA/Erlangga Bregas Prakoso
Edukasi komunitas
Namun, Dwi tidak ingin bergerak sendirian. Ia membangun konsep edukatif menginspirasi warga untuk menciptakan karya seni dari sampah rumah tangga.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dari satu RW, jika ada seribu warga, dan masing-masing melukis satu karya, itu sudah mengurangi sampah secara signifikan" kata dia.
Tak hanya pada tingkat RT dan RW, dirinya juga tergerak membuka kelas secara gratis untuk skala yang lebih besar hingga ke berbagai daerah di Jakarta, Aceh hingga Makassar untuk bisa mengajarkan pembuatan lukisan dari sampah plastik. Hal ini semata-mata dilakukan agar bisa bermanfaat untuk orang lain serta menciptakan komunitas yang sadar lingkungan.
Bagi Dwi, sampah plastik juga bukan sekadar limbah tak berguna, tetapi juga potensi untuk melahirkan karya seni yang memiliki nilai jual. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki bakat dan cara unik untuk berkontribusi, asalkan mereka diberikan kesempatan dan pengetahuan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Setiap sampah memiliki cerita. Melalui seni, kita bisa menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan," tuturnya.

Seniman Teguh Joko Dwiyono menunjukkan lukisan dari limbah plastik di Jakarta Timur, Jumat (27/9). ANTARA/Erlangga Bregas Prakoso
Konsistensinya dalam mengolah sampah plastik menjadi karya seni membuahkan hasil. Karyanya mulai dilirik kolektor mancanegara. Pesanan berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia hingga penjuru dunia mulai dari London, Amerika Serikat, Prancis, Bahrain, hingga Jepang.
Kini, Dwi memiliki harapan besar mencetak generasi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga peduli lingkungan. Ia terus mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap sampah dari sekadar limbah menjadi sumber inspirasi karya seni yang memiliki estetika dan nilai ekonomis.
Apa yang dilakukan Dwi mungkin terlihat sederhana yakni merekatkan plastik di kanvas. Tapi di balik setiap karya, tersimpan niat untuk menyelamatkan bumi, memberdayakan komunitas, dan membuktikan bahwa limbah bukan akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari sebuah cerita baru.
Dari galeri mungil di Jakarta Timur, suara hair dryer yang menyatu dengan riuh sampah plastik itu perlahan mengubah dunia jadi satu lukisan, satu kesadaran, satu aksi nyata pada satu waktu. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!