Sebuah Seni dari Limbah Plastik, Aksi Jitu untuk Rawat Bumi
📅 Senin, 09 Jun 2025, 22:48 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Erlangga Bregas Prakoso
JAKARTA - Teguh Joko Dwiyono menempatkan seni ke tahap yang dapat mengubah kebiasaan masyarakat memperlakukan limbah rumah tangga.
Dwi (69), demikian ia disapa, adalah seorang pelukis yang menjadikan sisa sampah plastik sebagai salah satu medium dalam melahirkan karya seni. Lewat kreativitas dan ketekunannya, Dwi menjadikan limbah plastik sebagai medium artistik yang tak hanya estetik, tapi juga sarat nilai edukatif dan sosial.
Ia mendedikasikan hidupnya untuk mengubah cara masyarakat memandang sampah.
Meski kini dikenal sebagai seniman, Teguh Joko Dwiyono tidak memiliki latar belakang akademik di bidang seni rupa. Sejak kecil, ia tumbuh dalam keterbatasan. Sang ayah, yang seorang guru, tak mampu membelikan kertas gambar atau pensil warna. Sebagai gantinya, sang ayah kerap membawakan kapur tulis yang kemudian digunakan Dwiyono kecil untuk menggambar di lantai rumah.
Bakatnya mulai terlihat sejak usia dini. Selama duduk di bangku taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, Dwiyono kerap dipercaya mewakili sekolahnya dalam berbagai lomba melukis.
Sebaiknya Anda baca juga:

Peserta mengamati lukisan dari limbah plastik di Jakarta, Kamis (11/7). ANTARA/Erlangga Bregas Prakoso
Namun, mimpi untuk mengenyam pendidikan formal di bidang seni rupa harus pupus. Keinginannya masuk ke Akademi Seni Rupa Indonesia, cikal bakal Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tidak mendapat restu dari orang tuanya.
Ia pun diarahkan mengikuti jejak kakak-kakaknya untuk kuliah di jurusan Teknik Sipil. Setelah lulus dan bekerja sebagai insinyur, Dwiyono justru merasa ada ruang kosong dalam hidupnya, sebuah keganjilan yang menyadarkannya bahwa seni adalah panggilan jiwa yang tak bisa ditekan oleh logika.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari kegelisahaan
Di galeri sederhana miliknya di kawasan Jakarta Timur, Dwi tampak tekun menyusun potongan-potongan plastik bekas menjadi sebuah lukisan. Sambil bekerja, ia bercerita tentang kegelisahan yang akhirnya menjelma menjadi sumber inspirasi.
Kisah Dwiyono mengolah limbah rumah tangga menjadi karya seni dimulai secara tak sengaja pada tahun 1995. Saat itu, sang istri tengah memasak nasi goreng favoritnya. Tanpa sadar, ia menginjak cangkang telur yang terjatuh di lantai.
“Krrrieekkk! Saya angkat kaki pelan-pelan, dan saya lihat pecahannya indah sekali, punya nilai seni yang tinggi,” tuturnya.
Temuan itu mengantarnya pada proses eksplorasi yang tidak sebentar. Selama dua tahun, Dwiyono bereksperimen memahami struktur, tekstur, dan karakteristik kulit telur. Ia bahkan menelusuri filosofi yang terkandung di balik benda yang tampak rapuh itu.
Menurut dia, kulit telur mencerminkan paradoks kehidupan. Meski tipis dan mudah pecah, ia justru memiliki ketahanan terhadap cuaca dan goresan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!