Sebuah Seni dari Limbah Plastik, Aksi Jitu untuk Rawat Bumi
📅 Senin, 09 Jun 2025, 22:48 WIB | Oleh: Opik
Peserta mengamati lukisan dari limbah plastik di Jakarta, Kamis (11/7). ANTARA/Erlangga Bregas Prakoso
Dari situlah, Dwiyono melihat makna dalam kerapuhan ada kekuatan yang tersembunyi. Lebih dari sekadar medium seni, ia memaknai cangkang telur sebagai simbol kehidupan. Bagi Dwiyono, kulit telur adalah ruang awal terciptanya nyawa dan rahim sementara yang melahirkan kehidupan ke dunia
“Hidup berasal dari telur. Saya mengibaratkannya sebagai rahim. Dan rahim itu hanya dimiliki oleh ibu. Maka, jangan pernah lupakan ibu kita,” ujarnya.
Refleksi itu lantas meluas. Tak hanya mengingatkan pada peran ibu kandung, baginya, menciptakan karya seni dari limbah kulit telur juga menjadi bentuk penghormatan pada “ibu pertiwi” bumi yang harus dilindungi dari kerusakan lingkungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dedikasinya pun membuahkan hasil. Hingga kini, Dwiyono telah berhasil mengidentifikasi sekitar 40 jenis warna alami dari kulit telur sebagai elemen visual dalam karya-karyanya. Inovasi itu memperkuat pesan bahwa seni tak hanya soal estetika, tapi juga kesadaran akan keberlanjutan dan kehidupan.
Sampah jadi estetika
Pada masa pandemi Covid-19, Dwi menyadari lingkungan rumahnya mulai dipenuhi sampah plastik sisa belanja daring. Jumlahnya terus menumpuk, tak terangkut petugas kebersihan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Awalnya saya tanya ke tukang sampah mengapa sampah plastik tidak diangkut? Katanya tidak laku. Di situlah mendapatkan plastik-plastik yang beranekaragam, bagus-bagus warnanya, dan unik-unik. Itu menarik perhatian saya,” ujarnya.
Dari sana, ide untuk menjadikan sampah sebagai karya seni mulai tumbuh. Sebelumnya, Dwi memang sudah dikenal sebagai pelukis yang pernah menggunakan limbah cangkang telur sebagai bahan lukisan sejak 1995. Namun plastik menawarkan tantangan dan peluang baru.
Kesadaran akan persoalan tersebut mendorong Dwi untuk tidak tinggal diam. Dia mulai bereksperimen tanpa bahan kimia untuk mengolah plastik menjadi lukisan. Dalam waktu tiga bulan, dia menemukan metode yang sederhana tentunya juga tanpa bahan kimia agar karya seninya tak mencemari lingkungan.

Seniman Teguh Joko Dwiyono (tengah) memberikan pelatihan kepada warga untuk membuat lukisan dari limbah plastik di Jakarta, Kamis (11/7). ANTARA/Erlangga Bregas Prakoso
Limbah sampah plastik tersebut, ia rekatkan tanpa menggunakan lem melainkan alat pengering rambut seharga 40 ribu rupiah. Tujuannya, agar karya seni tersebut dapat dicontoh oleh masyarakat sehingga dapat mengolah limbah plastik secara mandiri dengan mudah dan alat yang murah.
Langkah Dwi tak datang di ruang hampa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, timbunan sampah nasional Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 7,68 juta ton atau 12 persen merupakan sampah plastik limbah yang dikenal sulit terurai dan sangat mencemari lingkungan jika tak ditangani serius.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!