Idul Adha Bisa Jadi Momentum Pemberdayaan Peternak Rakyat
📅 Sabtu, 07 Jun 2025, 13:00 WIB | Oleh: Tim PenulisNamun, sebelum melakukan sosialisasi atau langkah teknis pemberdayaan, ada baiknya pemerintah dan pihak terkait menentukan model bisnis yang tepat. Agaknya akan sulit jika peternak rakyat langsung diarahkan skema pasar bebas berorientasi industri.
Sebagai permulaan, pemerintah dapat menggandeng mitra-mitra untuk melakukan pemberdayaan peternak berbasis komunitas. Model pemberdayaan ini akan lebih cocok karena tetap mempertahankan kekhasan peternak rakyat.
Pendekatan ini bisa digerakkan juga oleh lembaga filantropi berbasis keagamaan. Salah satu model peternakan yang layak jadi rujukan adalah yang dilakukan melalui unit usaha bisnis pesantren.
Salah satu suksesi peternakan yang dikelola pesantren adalah Pondok Modern Darussalam Gontor. Pesantren ini memiliki unit usaha peternakan dibawah naungan Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peternakan ini memiliki 3 klaster. Pertama, ternak untuk berkembang biak. Kedua tempat penggemukan. Ketiga olahan ternak, seperti produksi susu dan daging potong. Pengembangan klaster ini tidak terlepas dari unit usaha pesantren untuk melatih kemandirian ekonomi. Hal ini menjadi kontekstual penguatan sistem pendidikan pesantren dengan metode learning by practice santri terhadap pengelolaan usaha peternakan.
Melalui sistem pendidikan yang berkelanjutan tersebut, peternakan Gontor sudah mampu menyuplai kebutuhan pesantren, termasuk kebutuhan hewan kurban di seluruh kampus gontor putri di Jawa Timur. Bahkan peternakan ini juga menyuplai pangan masyarakat sekitar sepanjang tahun, tidak hanya di musim lebaran Iduladha.
Selain persoalan hulu produksi, lembaga filantropi Dompet Dhuafa juga memiliki program Program Tebar Hewan Kurban agar distribusi daging kurban melalui jaringan dan rekanan peternak lebih merata hingga ke pelosok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Program ini mampu mendistribusikan kurban ke lebih dari 1.500 desa dengan kategori tingkat kemiskinan di atas rata-rata di 34 provinsi.
Di samping persoalan distribusi, program ini juga memanfaatkan berbagai instrumen keuangan syariah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf untuk pembinaan peternakan lokal kecil di berbagai daerah.
Potensi untuk dijadikan komoditas ekspor
Daging sapi menjadi komoditas impor produk ternak tertinggi nasional. Volume impor daging sapi mencapai 20.115,22 ton. Adapun tahun ini, negara menambah kuota impor daging sapi sebanyak 184 ribu ekor.
Bahkan tren impor juga terjadi pada hewan kurban seperti kambing etawa, sapi limousin, dan daging sapi premium seperti wagyu. Hal ini menandakan permintaan masyarakat terhadap daging sapi selalu bertumbuh.
Jalan menuju ekspor komoditas daging sapi bisa tercapai dengan dukungan program peningkatan kualitas produk perternakan yang berdaya saing di pasar global. Pasar ekspor daging sapi internasional senilai US$60 miliar (kurang lebih seribu triliun rupiah).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!