Lonceng Alarm Bahaya Keliki Berbunyi: Wisata Meningkat, Lahan Menyusut
📅 Rabu, 21 Mei 2025, 23:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
GIANYAR – Alih fungsi lahan pertanian sangat berbahaya, terutama bagi ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, dan lingkungan. Terlebih lagi, pemerintah tengah mengejar target swasembada pangan pada 2027.
Alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman, jalan tol, industri, atau fasilitas publik lainnya dapat mengakibatkan berkurangnya lahan pertanian, penurunan produksi pangan, hilangnya mata pencaharian petani, perubahan sosial, dan kerusakan lingkungan.
Desa Keliki, Kabupaten Gianyar, yang terkenal dengan desa mandiri energi sejak 2022 lalu kini terancam alih fungsi lahan akibat tingginya kunjungan wisatawan yang tertarik dengan penggunaan PLTS disana.
Ketua BUMDes Yowana Keliki I Wayan Sumada di Kabupaten Gianyar, Rabu (21/5), menyebut kenaikan kunjungan wisatawan dalam 3 tahun mencapai 200 persen, bahkan desa sampai kekurangan kamar.
“Ini yang menjadi dampak negatifnya bagi kami yaitu alih fungsi lahan, saking banyaknya permintaan penginapan akomodasi, di Desa Keliki menjamurlah vila-vila sekarang,” kata dia saat Jelajah Energi Bali bersama IESR. “Dulu ini (vila di tengah sawah) belum ada, sekarang sudah ada, baru ini belum ada setahun,” sambung Sumada.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bahkan, di salah satu jalan terdapat penginapan yang khusus dihuni wisatawan asal Prancis hingga dijuliki Kampung Prancis.
Diketahui, Desa Keliki dikenal setelah menjadi salah satu desa kunjungan G20 yang dibina Pertamina sebagai desa berdikari dalam hal energi.
Terdapat delapan titik pemasangan solar panel PLTS, yaitu tujuh titik di sawah seluas 20-60 hektar untuk mengairi irigasi, dan satu titik PLTS atap untuk menjalankan mesin pengolah sampah TPS3R disana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Desa penyangga Ubud itu kemudian disulap menjadi indah dengan trek lari berpemandangan sawah berundak atau subak yang disukai wisatawan.
Akhirnya pembangunan mulai terjadi, dan hal yang dapat dilakukan desa untuk mengantisipasi lajur alih fungsi lahan hingga saat ini hanya pararem atau aturan adat.
Adapun yang boleh membangun akomodasi di area persawahan hanya penduduk lokal, pun hanya 30 persen dari sawah mereka yang boleh dibangun sementara sisanya tetap menjadi sawah produktif.
Di samping pariwisata, Sumada mengatakan keuntungan utama dari pemanfaatan PLTS ini sebenarnya untuk pertanian.
PLTS pada TPS3R digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk, dimana dari yang dahulu petani desa hanya mendapat hasil panen padi 5 ton per hektar kini menembus 8,7 ton per hektar.
Lembaga think tank Institute for Essential Services Reform (IESR) selaku mitra pemerintah mendata seluruh PLTS di Desa Keliki yang membuat desa tersebut terkenal berkapasitas 28 kWp.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!